07 Oktober 2020

Mendiang Gitaris Eddie Van Halen Ternyata Berdarah Indonesia

Tim Redaksi | 436 Pembaca

  • BAGIKAN :
Mendiang Gitaris Eddie Van Halen Ternyata Berdarah Indonesia
Foto: Eddie Van Halen

Banyak yang tak tahu fakta satu ini tentang mendiang Edward Lodewijk van Halen atau dikenal sebagai Eddie Van Halen. Gitaris band rock Van Halen yang lahir di Nijmegen, Belanda, 26 Januari 1955 itu selama ini memang dikenal sebagai gitaris Amerika Serikat.

Dihimpun dari berbagai sumber, Rabu, 7 Oktober 2020, Eddie ternyata memiliki darah Indonesia dari sang ibu, Eugenia van Beers. Eugenia merupakan wanita berdarah Indonesia-Belanda yang lahir di Rangkasbitung. Sementara ayah Eddie, Jan van Halen adalah seorang pemain saksofon Belanda berdarah Swedia.

Jan dan Eugenia bertemu di Indonesia dan jatuh cinta. Mereka meninggalkan Jakarta pada 1953 atau dua tahun sebelum Eddie lahir, lalu tinggal di Amsterdam. Tahun 1962, ayah dan ibu Eddie pindah ke Pasadena, California untuk mencoba peruntungan.

Setelah tinggal di AS, sang ayah mengajarkan kedua anaknya, Eddie dan adiknya, Alex Van Halen yang juga merupakan drummer Van Halen untuk bermian piano.

Hanya butuh waktu sebentar sebelum akhirnya mereka beralih ke drum (Eddie) dan gitar (Alex). Namun, Alex yang lebih suka main drum milik Eddie justru lebih mahir bermain drum. Eddie Van Halen pun beralih dan memutuskan untuk mendalami gitar.

Awalnya, kakak beradik itu sering mengisi kegiatan musik di sekolah mereka dan di berbagai tempat. Keduanya juga mengajak pemusik lainnya untuk bekerja sama.

Akhirnya mereka membentuk band bernama Mammoth. Setelah bekerja sama dengan David Lee Roth, Eddie dan Alex menariknya menjadi vokalis. Kemudian merekrut Michael Anthony sebagai bassist.

Mereka berganti nama menjadi Van Halen pada 1974.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, Eddie Van Halen meninggal dunia Selasa, 6 Oktober 2020 di usia 65 tahun, karena kanker paru-paru yang telah menyebar ke otak dan organ tubuh lainnya. Ia telah berjuang melawan kanker yang diidapnya selama lebih dari satu dekade.

Editor : Joko Yuwono