Kawasan ini juga berperan sebagai penyangga terhadap intrusi air laut. Dengan adanya mangrove, air laut tidak mudah masuk ke daratan, sehingga melindungi ekosistem air tawar dan lahan pertanian di sekitarnya.
Di sisi lain, keberadaan lahan basah juga membantu dalam pengendalian banjir. Air yang masuk ke kawasan rawa dapat diserap dan disimpan sementara, sehingga mengurangi risiko banjir di wilayah sekitar.
Namun, fungsi-fungsi tersebut sangat bergantung pada kondisi ekosistem yang masih utuh. Kerusakan mangrove atau perubahan fungsi lahan dapat mengurangi kemampuan kawasan dalam menjalankan perannya.
Tantangan konservasi dan pengelolaan berkelanjutan
Seperti kawasan pesisir lainnya, Taman Nasional Sembilang menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaannya. Salah satu yang paling utama adalah tekanan dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan untuk tambak dan perkebunan.
Perubahan fungsi lahan ini dapat menyebabkan hilangnya hutan mangrove dan mengganggu keseimbangan ekosistem. Selain itu, aktivitas ilegal seperti penebangan dan perburuan juga menjadi ancaman yang perlu diwaspadai.
Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 19:16 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:53 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:25 WIB