Di tengah beragam makanan modern yang terus bermunculan, bubur sumsum tetap mempertahankan tempat istimewa dalam ingatan banyak masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa. Hidangan ini tampak sederhana dengan warna putih lembut dan siraman kuah gula merah, tetapi di balik tampilannya tersimpan sejarah, nilai budaya, dan nostalgia yang sulit digantikan oleh makanan lain.
Bubur sumsum termasuk salah satu kudapan tradisional yang telah lama hidup dalam keseharian masyarakat Jawa. Meski tidak ada catatan pasti mengenai waktu kemunculannya, banyak ahli kuliner meyakini bahwa bubur ini berkembang dari tradisi pengolahan tepung beras dan santan yang telah dikenal sejak lama di wilayah agraris Nusantara.
Dalam masyarakat Jawa, beras memiliki kedudukan penting bukan hanya sebagai sumber pangan utama, tetapi juga sebagai simbol kehidupan dan kemakmuran. Karena itu, berbagai olahan berbahan beras tumbuh menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya makan lokal. Bubur sumsum merupakan salah satu contoh bagaimana bahan sederhana dapat diolah menjadi sajian yang bernilai sosial dan emosional.
Nama “bubur sumsum” sering menimbulkan rasa penasaran. Banyak orang mengira hidangan ini berkaitan dengan sumsum tulang, padahal tidak demikian. Penamaan tersebut diyakini merujuk pada teksturnya yang sangat lembut dan putih menyerupai sumsum. Karakter inilah yang menjadi ciri utama bubur sumsum sejak dahulu.
Kesederhanaan bubur sumsum lahir dari kedekatan masyarakat Jawa dengan bahan lokal. Tepung beras mudah diperoleh dari hasil pertanian, sementara santan berasal dari kelapa yang banyak tumbuh di lingkungan tropis. Kombinasi keduanya menghasilkan makanan yang ekonomis namun tetap memberi rasa nyaman dan mengenyangkan.
Pada masa lalu, bubur sumsum tidak selalu diposisikan sebagai makanan penutup seperti sekarang. Di beberapa daerah Jawa, hidangan ini dapat disantap pada pagi atau sore hari sebagai pengganjal perut. Teksturnya yang lembut membuatnya cocok untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang lanjut usia.
Dr Agus Ujianto Kembali Dipercaya Nahkodai Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
07 Mei 2026, 17:16 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:56 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:22 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:07 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 17:45 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 16:35 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 10:20 WIB
Kuliner
12 Apr 2026, 11:12 WIB
Edukasi
18 Jan 2026, 0:44 WIB
Ekonomi
17 Jan 2026, 23:33 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:48 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB