Pengakuan GEF menempatkan Indonesia sebagai pelopor dalam konservasi berbasis lanskap, pendekatan yang mengintegrasikan kebutuhan manusia dan alam.
Tidak seperti model konservasi tradisional yang terisolasi, ENABLE dan SPARE melibatkan komunitas lokal, termasuk perempuan dan masyarakat adat, dalam pengelolaan ekosistem.
Ini sejalan dengan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 dan Kunming-Montreal Global Biodiversity Framework, yang menargetkan perlindungan 30% wilayah darat dan laut global pada 2030.
Indonesia, dengan 120,5 juta hektar kawasan hutan (MoEF 2020), berada di jalur untuk memenuhi target ini, terutama melalui program seperti social forestry yang telah memberikan hak kelola 4,7 juta hektar hutan kepada komunitas lokal hingga 2022.
Prestasi ini juga menjawab tantangan global. Indonesia adalah penghasil emisi gas rumah kaca terbesar keenam dunia, sebagian besar akibat deforestasi dan konversi lahan gambut untuk pertanian (WRI 2023).
Kebakaran hutan 2019 di lahan gambut, misalnya, menghasilkan emisi karbon dua kali lipat dibandingkan kebakaran Amazon (Mongabay 2019).
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 19:16 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:53 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:25 WIB
Inspirasi
19 Jul 2025, 8:58 WIB
Hotel
16 Jul 2025, 2:57 WIB
Hotel
16 Jul 2025, 2:44 WIB