Dalam perkembangannya, Benteng Kalamata juga pernah berada di bawah pengaruh Belanda dan Inggris. Pergantian penguasa itu menunjukkan betapa pentingnya posisi Ternate dalam jalur perdagangan internasional saat itu.
Nama “Kalamata” sendiri baru digunakan setelah benteng berada dalam pengaruh Kesultanan Ternate. Nama tersebut diambil dari nama Pangeran Kalamata atau Kaicil Kalamata, seorang tokoh penting Kesultanan Ternate yang hidup pada abad ke-17.
Pangeran Kalamata dikenal sebagai bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik Ternate dan hubungan dengan bangsa asing. Penggunaan nama tersebut menjadi simbol kedekatan benteng dengan sejarah lokal masyarakat Ternate.
Bentuk Arsitektur dan Keunikan Benteng
Benteng Kalamata memiliki bentuk arsitektur yang unik dibandingkan benteng kolonial lain di Indonesia. Dari atas, bentuknya disebut menyerupai penyu atau burung yang sedang membentangkan sayap.
Bangunan benteng terdiri dari empat bastion atau sudut pertahanan yang menghadap ke berbagai arah. Setiap sudut memiliki lubang pengintai dan meriam untuk mempertahankan wilayah dari serangan musuh.
Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 19:16 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:53 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:25 WIB