Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Maluku Utara
»
Benteng Kolonial


Benteng Kalamata Peninggalan Portugis, Saksi Sejarah Perebutan Rempah-Rempah di Ternate

Foto: Benteng Kalamata menjadi salah satu peninggalan sejarah penting di Maluku Utara yang hingga kini masih berdiri kokoh di tepi pantai Ternate Selatan
Warta Konsumen Indonesia

Ternate, Indonesianer.com — Benteng Kalamata di Kota Ternate merupakan salah satu benteng bersejarah peninggalan Portugis yang menjadi saksi perebutan rempah-rempah dunia. Destinasi wisata sejarah ini menyimpan kisah kolonialisme, perdagangan cengkeh, dan kejayaan Kesultanan Ternate.

Benteng Kalamata menjadi salah satu peninggalan sejarah penting di Maluku Utara yang hingga kini masih berdiri kokoh di tepi pantai Ternate Selatan. Bangunan tua ini bukan hanya sekadar benteng pertahanan, tetapi juga menjadi simbol perjalanan panjang perebutan kekuasaan atas jalur perdagangan rempah-rempah dunia pada abad ke-16 hingga abad ke-18.

Benteng yang berada di Kelurahan Kayu Merah atau Bastiong, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, itu memiliki posisi strategis menghadap langsung ke Pulau Tidore dan Pulau Maitara. Letaknya yang berada di pesisir membuat benteng ini dahulu sangat penting sebagai titik pengawasan aktivitas pelayaran dan perdagangan di perairan Maluku.

Sejarah Pendirian Benteng Kalamata

Benteng Kalamata pertama kali dibangun oleh Portugis sekitar tahun 1540. Pada awal berdirinya, benteng ini bernama Benteng Santa Lucia. Portugis membangun benteng tersebut sebagai bagian dari strategi memperkuat pengaruh mereka di wilayah penghasil rempah-rempah, terutama cengkeh yang saat itu menjadi komoditas paling berharga di pasar dunia.

Kedatangan Portugis ke Maluku tidak dapat dipisahkan dari ambisi bangsa Eropa menguasai perdagangan rempah-rempah. Setelah menemukan jalur laut menuju Asia, Portugis mulai membangun jaringan perdagangan dan pertahanan di berbagai wilayah strategis, termasuk Ternate.

Pada masa itu, Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam terkuat di kawasan timur Nusantara. Kesultanan Ternate memiliki pengaruh besar dalam perdagangan rempah dan hubungan politik dengan kerajaan-kerajaan lain di Maluku.

Portugis awalnya menjalin hubungan dagang dengan Kesultanan Ternate. Namun, hubungan tersebut kemudian memburuk akibat campur tangan Portugis dalam urusan politik kerajaan serta monopoli perdagangan yang merugikan masyarakat lokal.

Benteng Santa Lucia kemudian menjadi salah satu pusat pertahanan Portugis di Ternate. Benteng ini dibangun menggunakan batu karang dan batu andesit dengan bentuk menyerupai empat sudut pertahanan. Lokasinya dipilih karena mampu mengawasi pergerakan kapal dari arah Tidore yang saat itu sering menjadi sekutu Spanyol.

Perebutan Kekuasaan dan Pergantian Penguasa

Sejarah Benteng Kalamata tidak lepas dari pergantian kekuasaan antarbangsa Eropa dan kerajaan lokal. Setelah Portugis berhasil diusir dari Ternate oleh Sultan Baabullah pada tahun 1575, benteng tersebut sempat dikuasai Spanyol.

Pengusiran Portugis oleh Sultan Baabullah menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah Nusantara. Sultan Ternate itu berhasil memimpin perlawanan besar terhadap Portugis setelah terbunuhnya Sultan Khairun yang dianggap sebagai pengkhianatan kolonial.

Kemenangan Kesultanan Ternate atas Portugis membuat bangsa Eropa kehilangan salah satu basis penting mereka di Maluku. Namun, persaingan kolonial tidak berhenti. Spanyol kemudian masuk dan memanfaatkan benteng tersebut sebagai pusat pertahanan baru.

Dalam perkembangannya, Benteng Kalamata juga pernah berada di bawah pengaruh Belanda dan Inggris. Pergantian penguasa itu menunjukkan betapa pentingnya posisi Ternate dalam jalur perdagangan internasional saat itu.

Nama “Kalamata” sendiri baru digunakan setelah benteng berada dalam pengaruh Kesultanan Ternate. Nama tersebut diambil dari nama Pangeran Kalamata atau Kaicil Kalamata, seorang tokoh penting Kesultanan Ternate yang hidup pada abad ke-17.

Pangeran Kalamata dikenal sebagai bangsawan yang memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik Ternate dan hubungan dengan bangsa asing. Penggunaan nama tersebut menjadi simbol kedekatan benteng dengan sejarah lokal masyarakat Ternate.

Bentuk Arsitektur dan Keunikan Benteng

Benteng Kalamata memiliki bentuk arsitektur yang unik dibandingkan benteng kolonial lain di Indonesia. Dari atas, bentuknya disebut menyerupai penyu atau burung yang sedang membentangkan sayap.

Bangunan benteng terdiri dari empat bastion atau sudut pertahanan yang menghadap ke berbagai arah. Setiap sudut memiliki lubang pengintai dan meriam untuk mempertahankan wilayah dari serangan musuh.

Dinding benteng memiliki ketebalan cukup besar karena dibangun menggunakan campuran batu karang dan perekat tradisional. Meski telah berusia ratusan tahun, sebagian besar struktur benteng masih berdiri dengan baik.

Di bagian dalam benteng terdapat halaman terbuka yang dahulu digunakan untuk aktivitas militer dan penyimpanan logistik. Terdapat pula sumur tua yang menjadi sumber air bagi para prajurit pada masa penjajahan.

Salah satu daya tarik utama Benteng Kalamata adalah pemandangan alam di sekitarnya. Dari benteng ini, pengunjung dapat melihat panorama laut dengan latar Pulau Tidore dan Pulau Maitara yang terkenal indah.

Pada sore hari, kawasan benteng sering dipenuhi wisatawan yang ingin menikmati matahari terbenam. Kombinasi bangunan sejarah dan panorama laut menjadikan Benteng Kalamata memiliki daya tarik wisata yang kuat.

Lokasi dan Rute Menuju Benteng Kalamata

Benteng Kalamata berada di kawasan Bastiong, Kecamatan Ternate Selatan, Kota Ternate, Maluku Utara. Lokasinya sekitar lima kilometer dari pusat Kota Ternate dan cukup mudah dijangkau kendaraan.

Bagi wisatawan yang datang melalui Bandara Sultan Babullah Ternate, perjalanan menuju benteng memerlukan waktu sekitar 15 hingga 20 menit menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat.

Dari pusat kota, pengunjung dapat mengikuti jalur menuju Bastiong. Benteng berada tepat di pinggir jalan utama sehingga mudah ditemukan. Akses jalan menuju lokasi juga sudah cukup baik dan dilengkapi berbagai fasilitas umum.

Di sekitar kawasan benteng terdapat area parkir, warung makan, dan beberapa tempat duduk untuk wisatawan. Pemerintah daerah juga menjadikan kawasan ini sebagai salah satu destinasi wisata sejarah unggulan di Ternate.

Benteng Kalamata biasanya ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun luar daerah, terutama saat musim liburan. Banyak pengunjung datang untuk mempelajari sejarah Ternate sekaligus menikmati pemandangan pantai.

Historiografi Benteng Kalamata

Dalam kajian historiografi, Benteng Kalamata memiliki posisi penting sebagai simbol perebutan pengaruh global di wilayah Nusantara. Benteng ini menunjukkan bahwa Maluku pernah menjadi pusat perhatian dunia karena kekayaan rempah-rempahnya.

Sejarawan melihat benteng-benteng di Ternate sebagai bukti nyata bagaimana kolonialisme berkembang melalui perdagangan. Bangsa Eropa datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga menguasai jalur distribusi dan sumber produksi rempah-rempah.

Benteng Kalamata juga menjadi representasi konflik antara kerajaan lokal dan bangsa asing. Kesultanan Ternate tidak hanya menjadi korban kolonialisme, tetapi juga aktor politik yang aktif melawan dominasi asing.

Perlawanan Sultan Baabullah terhadap Portugis sering disebut sebagai salah satu kemenangan terbesar kerajaan Nusantara terhadap bangsa Eropa pada abad ke-16. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kerajaan lokal memiliki kemampuan militer dan strategi politik yang kuat.

Selain itu, historiografi Benteng Kalamata menunjukkan bahwa sejarah Indonesia timur memiliki pengaruh besar dalam sejarah dunia. Maluku bukan wilayah pinggiran, melainkan pusat ekonomi global pada era perdagangan rempah-rempah.

Dalam berbagai catatan kolonial, Ternate dan Tidore menjadi wilayah yang sangat diperebutkan karena menghasilkan cengkeh berkualitas tinggi. Rempah-rempah dari Maluku bahkan memiliki nilai ekonomi setara emas di pasar Eropa pada masa itu.

Benteng Kalamata Sebagai Destinasi Wisata Sejarah

Saat ini Benteng Kalamata telah menjadi salah satu ikon wisata sejarah Kota Ternate. Pemerintah daerah melakukan pemugaran dan konservasi agar bangunan tersebut tetap terjaga sebagai warisan budaya.

Benteng ini tidak hanya menarik bagi wisatawan umum, tetapi juga peneliti sejarah, mahasiswa, dan fotografer. Banyak wisatawan datang untuk mempelajari jejak kolonialisme di Maluku sekaligus menikmati suasana pantai yang tenang.

Berbagai kegiatan budaya juga kerap digelar di kawasan benteng, mulai dari festival seni hingga pertunjukan budaya lokal. Hal tersebut dilakukan untuk memperkenalkan sejarah Ternate kepada generasi muda.

Keberadaan Benteng Kalamata menjadi pengingat bahwa Maluku pernah menjadi pusat perdagangan dunia yang memengaruhi politik internasional. Dari benteng kecil di tepi laut ini, sejarah panjang perebutan rempah-rempah dunia pernah berlangsung.

Benteng Kalamata bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial, tetapi simbol perjalanan sejarah, perlawanan, dan identitas masyarakat Ternate yang tetap hidup hingga sekarang. (*)

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua