Sejarawan melihat benteng-benteng di Ternate sebagai bukti nyata bagaimana kolonialisme berkembang melalui perdagangan. Bangsa Eropa datang bukan hanya untuk berdagang, tetapi juga menguasai jalur distribusi dan sumber produksi rempah-rempah.
Benteng Kalamata juga menjadi representasi konflik antara kerajaan lokal dan bangsa asing. Kesultanan Ternate tidak hanya menjadi korban kolonialisme, tetapi juga aktor politik yang aktif melawan dominasi asing.
Perlawanan Sultan Baabullah terhadap Portugis sering disebut sebagai salah satu kemenangan terbesar kerajaan Nusantara terhadap bangsa Eropa pada abad ke-16. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa kerajaan lokal memiliki kemampuan militer dan strategi politik yang kuat.
Selain itu, historiografi Benteng Kalamata menunjukkan bahwa sejarah Indonesia timur memiliki pengaruh besar dalam sejarah dunia. Maluku bukan wilayah pinggiran, melainkan pusat ekonomi global pada era perdagangan rempah-rempah.
Dalam berbagai catatan kolonial, Ternate dan Tidore menjadi wilayah yang sangat diperebutkan karena menghasilkan cengkeh berkualitas tinggi. Rempah-rempah dari Maluku bahkan memiliki nilai ekonomi setara emas di pasar Eropa pada masa itu.
Benteng Kalamata Sebagai Destinasi Wisata Sejarah
Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 19:16 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:53 WIB
Perspektif
30 Jul 2025, 18:25 WIB