Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Jawa Barat
»
Musik Tradisional


Menggema Hingga Seluruh Dunia, Angklung sebagai Musik Tradisional Kebanggaan Indonesia

Foto: Alat musik ini bermula dari tradisi masyarakat Sunda sejak abad ke-15, yang awalnya digunakan sebagai bagian dari ritual keagamaan, pengiring kesenian, hingga ritual menanam padi agar panen melimpah
Warta Konsumen Indonesia

Bandung, Indonesianer.com -- Angklung adalah alat musik tradisional multitonal (bernada ganda) asal Jawa Barat, Indonesia, yang terbuat dari pipa bambu. Dimainkan dengan cara digoyangkan, setiap angklung dirancang untuk menghasilkan satu nada spesifik sehingga pemainnya harus bekerja sama dalam kelompok untuk menciptakan sebuah melodi harmonis.

Di tengah derasnya arus modernisasi, tidak banyak alat musik tradisional yang mampu bertahan sekaligus menembus panggung internasional. Namun, angklung menjadi pengecualian. Terbuat dari susunan bambu sederhana yang digetarkan dengan tangan, alat musik khas Jawa Barat ini berhasil membuktikan bahwa kesederhanaan dapat melahirkan keindahan yang mendunia. Bunyinya yang khas, ringan, dan harmonis mampu menyatukan puluhan bahkan ratusan pemain dalam satu irama yang memikat.

Bagi sebagian orang, angklung mungkin hanya dikenal sebagai alat musik yang dimainkan saat acara sekolah atau pertunjukan budaya. Padahal, sejarah dan nilai yang terkandung di balik setiap bilah bambunya jauh lebih kaya daripada sekadar hiburan. Angklung merupakan warisan budaya yang telah hidup selama berabad-abad, berkembang mengikuti zaman, dan menjadi simbol kebersamaan masyarakat Indonesia.

Keunikan angklung terletak pada cara memainkannya. Berbeda dengan alat musik lain yang memungkinkan seorang pemain menghasilkan melodi secara mandiri, satu angklung umumnya hanya menghasilkan satu atau beberapa nada tertentu. Artinya, sebuah lagu hanya dapat dimainkan dengan baik apabila setiap pemain bekerja sama secara kompak. Tidak ada yang lebih penting daripada yang lain karena setiap nada memiliki peran yang sama dalam membentuk harmoni. Filosofi inilah yang menjadikan angklung bukan hanya alat musik, tetapi juga media pembelajaran mengenai gotong royong, disiplin, dan saling menghargai.

Sejarah angklung dipercaya telah dimulai sejak masa masyarakat agraris di tanah Sunda. Pada masa itu, alat musik bambu digunakan dalam berbagai upacara adat yang berkaitan dengan pertanian, terutama sebagai bagian dari ritual penghormatan kepada Dewi Sri yang dipercaya sebagai dewi padi dan kesuburan. Irama angklung dimainkan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus harapan agar hasil panen melimpah.

Dalam perkembangannya, fungsi angklung semakin luas. Tidak lagi terbatas pada kegiatan ritual, alat musik ini mulai digunakan dalam berbagai perayaan masyarakat, kesenian rakyat, hingga pertunjukan hiburan. Seiring perubahan zaman, angklung pun mengalami berbagai inovasi, baik dari sisi bentuk, sistem nada, maupun teknik permainan. Salah satu perubahan paling penting terjadi ketika sistem nada diatonis diperkenalkan sehingga angklung mampu memainkan lagu-lagu nasional, daerah, bahkan musik internasional.

Perubahan tersebut menjadi titik balik yang membawa angklung dikenal oleh dunia. Kini, tidak sedikit orkestra angklung yang membawakan lagu klasik, pop, jazz, hingga musik film dengan kualitas musikal yang mengagumkan. Fleksibilitas inilah yang membuat angklung tetap relevan tanpa kehilangan identitas tradisionalnya.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua