Di balik lebatnya hutan tropis Indonesia, terdapat seekor mamalia arboreal yang sering luput dari perhatian. Ukurannya jauh lebih besar dibanding tupai yang biasa terlihat di taman kota, gerakannya lincah di antara pucuk pepohonan, dan ekornya yang panjang menjuntai membuatnya tampak anggun saat melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Satwa itu adalah Jelarang Jawa (Ratufa bicolor), salah satu tupai terbesar di Asia yang menjadi penghuni setia kanopi hutan hujan.
Meski namanya mengandung kata "Jawa", persebaran Jelarang Jawa tidak hanya terbatas di Pulau Jawa. Satwa ini juga ditemukan di Sumatra serta beberapa wilayah Asia Tenggara lainnya. Namun, keberadaannya semakin sulit dijumpai akibat penyusutan habitat dan tekanan aktivitas manusia. Karena lebih banyak menghabiskan hidup di bagian atas pohon, Jelarang Jawa menjadi salah satu penghuni hutan yang jarang terlihat, bahkan oleh para peneliti sekalipun.
Keberadaan satwa ini sesungguhnya memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Kebiasaannya mengumpulkan biji dan buah membantu proses penyebaran berbagai jenis tumbuhan hutan. Tanpa disadari, setiap lompatan yang dilakukan Jelarang Jawa turut berkontribusi terhadap regenerasi pepohonan yang menjadi penyangga kehidupan hutan tropis.
Penampilannya menjadi daya tarik tersendiri. Tubuhnya dapat mencapai panjang lebih dari 35 sentimeter dengan ekor yang hampir sama panjangnya. Berat tubuhnya berkisar antara 1 hingga 2 kilogram, menjadikannya jauh lebih besar dibanding tupai pohon pada umumnya. Warna tubuhnya memperlihatkan kombinasi hitam kecokelatan pada bagian punggung dengan warna krem hingga cokelat muda di bagian bawah tubuh. Perbedaan warna inilah yang membuat nama ilmiahnya menggunakan kata bicolor, yang berarti dua warna.
Jelarang Jawa memiliki mata besar, telinga membulat, serta cakar tajam yang sangat efektif mencengkeram batang pohon. Struktur tubuh tersebut merupakan hasil adaptasi yang sempurna terhadap kehidupan arboreal. Satwa ini hampir tidak pernah turun ke tanah kecuali dalam kondisi tertentu, sehingga sebagian besar aktivitasnya berlangsung di atas kanopi.
Hutan dataran rendah menjadi habitat favorit Jelarang Jawa, meskipun ia juga mampu hidup di kawasan perbukitan hingga pegunungan dengan ketinggian lebih dari 1.500 meter di atas permukaan laut. Selama masih tersedia pepohonan tinggi yang saling terhubung, satwa ini dapat bergerak dengan leluasa tanpa harus menyentuh tanah.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 9:10 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:47 WIB