Desa Wisata Krebet terletak di Dusun Krebet, Kelurahan Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berada sekitar 15 kilometer di sebelah barat daya pusat Kota Yogyakarta, desa ini dikenal luas sebagai sentra kerajinan batik kayu yang telah berkembang selama puluhan tahun. Di tengah lanskap perbukitan yang masih asri, Krebet menghadirkan perpaduan menarik antara budaya, seni, kehidupan pedesaan, dan kreativitas masyarakat yang mampu mengubah kayu menjadi karya seni bernilai tinggi.
Berbeda dengan desa wisata yang mengandalkan panorama alam sebagai daya tarik utama, Krebet menawarkan pengalaman yang lebih dekat dengan aktivitas masyarakat. Wisatawan tidak hanya datang untuk menikmati suasana desa, tetapi juga melihat secara langsung bagaimana sebuah produk kerajinan lahir dari tangan-tangan para perajin. Mulai dari proses memilih bahan, membentuk kayu, membatik menggunakan canting, hingga tahap pewarnaan dan penyelesaian akhir, seluruh rangkaian pekerjaan dapat disaksikan secara langsung.
Keunikan inilah yang menjadikan Desa Wisata Krebet sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan ekonomi kreatif yang cukup dikenal di Yogyakarta. Desa ini membuktikan bahwa kreativitas masyarakat dapat menjadi kekuatan utama dalam membangun perekonomian lokal tanpa harus meninggalkan identitas budaya yang telah diwariskan turun-temurun.
Nama Krebet kini hampir selalu dikaitkan dengan batik kayu. Produk kerajinan tersebut telah menjadi identitas desa sekaligus sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Jika selama ini batik identik dengan kain, maka di Krebet motif-motif batik justru diaplikasikan pada media kayu dengan teknik yang relatif serupa. Hasilnya berupa berbagai produk dekorasi, perlengkapan rumah tangga, aksesori, hingga cendera mata yang memiliki karakter khas.
Perkembangan batik kayu di Krebet tidak terjadi dalam waktu singkat. Kerajinan ini mulai berkembang secara lebih serius pada dekade 1980-an ketika sejumlah warga mulai melakukan inovasi dengan memadukan seni ukir kayu dan teknik membatik. Inovasi tersebut mendapat sambutan positif karena menghasilkan produk yang unik dan berbeda dari kerajinan kayu pada umumnya. Seiring meningkatnya permintaan pasar, semakin banyak warga yang ikut menekuni usaha ini hingga akhirnya terbentuk sentra kerajinan yang dikenal luas seperti sekarang.
Bahan baku yang digunakan umumnya berasal dari kayu ringan seperti kayu pule, mahoni, pinus, atau jenis kayu lain yang mudah dibentuk. Setelah dipahat sesuai desain, permukaan kayu kemudian diberi motif menggunakan malam atau lilin batik dengan canting. Tahapan berikutnya adalah proses pewarnaan yang dilakukan secara bertahap sehingga menghasilkan motif yang kaya warna. Setelah seluruh proses selesai, lapisan pelindung ditambahkan agar warna lebih awet sekaligus memberikan tampilan yang lebih menarik.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:51 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:47 WIB