Di tengah bentang alam karst Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, terdapat sebuah gua yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya. Gua itu bernama Metanduno, atau sering pula disebut Liang Metanduno. Bagi masyarakat setempat, gua ini telah lama menjadi bagian dari lanskap budaya Pulau Muna. Namun pada awal 2026, nama Metanduno mendadak menarik perhatian dunia setelah para peneliti mengumumkan hasil penelitian yang mengungkap keberadaan sebuah gambar cap tangan berusia setidaknya 67.800 tahun.
Temuan tersebut bukan sekadar penambahan data arkeologi biasa. Cap tangan yang ditemukan di dinding gua itu kini dianggap sebagai seni cadas nonfiguratif tertua yang pernah diketahui di dunia. Penemuan ini menggeser sejumlah rekor sebelumnya dan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat terpenting perkembangan seni prasejarah manusia.
Gua Metanduno berada di kawasan karst Pulau Muna, sebuah wilayah yang sejak lama dikenal menyimpan banyak situs lukisan gua. Pulau ini terletak di sebelah tenggara Pulau Sulawesi dan memiliki bentang alam kapur yang dipenuhi gua-gua alami. Sejak dekade 1980-an, para arkeolog telah mendokumentasikan berbagai gambar cadas di Pulau Muna, mulai dari figur manusia, hewan, perahu, simbol matahari, hingga berbagai motif geometris. Namun, tidak semua lukisan purba tersebut langsung memperlihatkan rahasia yang tersimpan di balik lapisan waktu selama puluhan ribu tahun.
Di antara berbagai gambar yang terdapat di Metanduno, cap tangan purba itu awalnya tidak tampak mencolok. Warnanya telah memudar akibat usia yang sangat tua dan sebagian tertutup oleh lukisan-lukisan yang dibuat pada periode yang lebih muda. Justru karena kondisinya yang samar itulah gambar tersebut sempat luput dari perhatian. Baru setelah penelitian lebih mendalam dilakukan menggunakan teknologi dokumentasi dan analisis modern, para peneliti menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan salah satu karya seni tertua yang pernah dibuat manusia.
Cap tangan itu dibuat dengan teknik yang dikenal luas dalam seni cadas prasejarah. Seorang manusia purba menempelkan tangannya pada permukaan dinding batu, kemudian menyemprotkan pigmen berwarna merah di sekelilingnya. Ketika tangan diangkat, yang tersisa adalah siluet negatif berbentuk telapak dan jari-jari tangan. Teknik sederhana tersebut ternyata digunakan oleh manusia di berbagai belahan dunia selama puluhan ribu tahun dan menjadi salah satu bentuk ekspresi simbolik paling awal yang diketahui dalam sejarah manusia.
Yang membuat cap tangan Metanduno begitu istimewa bukan hanya usianya. Para peneliti menemukan bahwa bentuk jari-jari pada salah satu stensil tangan tampak sengaja dimodifikasi sehingga terlihat lebih runcing atau menyempit. Modifikasi tersebut diyakini bukan terjadi secara kebetulan. Ada kemungkinan pembuatnya ingin mengubah citra tangan manusia menjadi bentuk lain yang memiliki makna simbolis tertentu, mungkin menyerupai cakar hewan atau sosok yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat prasejarah saat itu. Hingga kini, makna sebenarnya masih menjadi misteri yang terus diteliti.
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:52 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:51 WIB
Istana Nusantara
18 Jun 2026, 11:50 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:13 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
16 Jun 2026, 22:00 WIB
Geopark
16 Jun 2026, 17:43 WIB
Geosite
15 Jun 2026, 20:28 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Peristiwa
15 Jun 2026, 6:08 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:59 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:58 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:51 WIB