Di gugusan Kepulauan Maluku yang sejak berabad-abad lalu dikenal sebagai pusat perdagangan rempah dunia, berdiri sejumlah benteng peninggalan kolonial yang menjadi saksi bisu perebutan kekuasaan bangsa-bangsa Eropa. Di antara deretan benteng tersebut, Benteng Beverwijk menjadi salah satu peninggalan sejarah yang menarik untuk dikenal. Meski namanya tidak sepopuler Benteng Belgica di Banda Neira atau Benteng Amsterdam di Hila, keberadaan Benteng Beverwijk menyimpan kisah penting mengenai strategi pertahanan Belanda dalam menguasai jalur perdagangan pala dan cengkih di kawasan timur Nusantara.
Benteng ini mencerminkan bagaimana Maluku pernah menjadi pusat perhatian dunia. Pada masa ketika rempah-rempah memiliki nilai setara emas, setiap pelabuhan, pulau, hingga jalur laut menjadi rebutan bangsa Portugis, Spanyol, Inggris, dan Belanda. Benteng-benteng pun dibangun bukan hanya sebagai tempat berlindung dari serangan musuh, tetapi juga sebagai simbol kekuasaan sekaligus pusat administrasi kolonial.
Kini, Benteng Beverwijk hadir sebagai bagian dari warisan sejarah Maluku. Meskipun sebagian bangunannya telah mengalami kerusakan akibat usia, jejak arsitektur kolonial yang masih tersisa mampu membawa pengunjung membayangkan suasana perdagangan rempah yang pernah menghidupkan kawasan ini selama ratusan tahun.
Benteng Beverwijk dibangun pada masa dominasi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Kepulauan Maluku. Seperti banyak benteng Belanda lainnya, pembangunan benteng ini dilatarbelakangi kebutuhan untuk mengamankan wilayah produksi rempah sekaligus mengawasi aktivitas pelayaran di sekitarnya.
Nama "Beverwijk" sendiri berasal dari sebuah kota di Belanda. Penamaan benteng dengan nama kota asal di negeri induk merupakan tradisi yang lazim dilakukan VOC. Selain menunjukkan identitas kolonial, nama tersebut juga menjadi simbol bahwa wilayah yang ditempati berada di bawah kendali pemerintah Belanda dan perusahaan dagang VOC.
Lokasi benteng dipilih secara strategis. Dari titik berdirinya, pasukan kolonial dapat mengawasi perairan di sekitarnya sekaligus memantau kapal-kapal yang keluar masuk kawasan perdagangan. Posisi tersebut memungkinkan Belanda mengontrol distribusi rempah sekaligus mencegah pedagang asing melakukan transaksi langsung dengan masyarakat setempat.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:51 WIB