Bagi banyak wisatawan, nama Tanjung Puting identik dengan perjalanan menyusuri sungai menggunakan klotok, perahu kayu tradisional yang menjadi sarana utama menjelajahi kawasan hutan. Namun, taman nasional ini sesungguhnya memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar destinasi wisata alam. Kawasan ini merupakan salah satu ekosistem rawa gambut dan hutan dataran rendah terpenting di Asia Tenggara, sekaligus rumah bagi beragam satwa langka yang keberadaannya semakin terancam akibat kehilangan habitat.
Taman Nasional Tanjung Puting memiliki luas sekitar 415 ribu hektare. Kawasan ini mencakup berbagai tipe ekosistem, mulai dari hutan hujan dataran rendah, hutan rawa air tawar, hutan rawa gambut, hutan kerangas, mangrove, hingga hutan pantai. Keragaman habitat tersebut menjadikan Tanjung Puting sebagai salah satu kawasan konservasi dengan kekayaan hayati paling tinggi di Indonesia.
Sejarah perlindungan kawasan ini telah dimulai sejak masa Hindia Belanda. Pada dekade 1930-an, wilayah tersebut ditetapkan sebagai kawasan perlindungan satwa untuk menjaga populasi orangutan dan bekantan yang saat itu mulai menghadapi tekanan akibat aktivitas manusia. Status konservasinya terus berkembang hingga akhirnya ditetapkan sebagai taman nasional pada dekade 1980-an. Selain itu, UNESCO menetapkannya sebagai bagian dari jaringan Cagar Biosfer Dunia karena nilai ekologisnya yang sangat penting.
Saat ini, Tanjung Puting dikenal luas di tingkat internasional berkat berbagai program penelitian dan konservasi orangutan yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Salah satu lokasi paling terkenal adalah Camp Leakey, pusat penelitian yang didirikan pada tahun 1971 dan menjadi tempat lahirnya berbagai penelitian penting mengenai perilaku orangutan liar.
Rumah Besar Orangutan dan Keanekaragaman Hayati Kalimantan
Daya tarik utama Tanjung Puting tentu saja adalah orangutan Kalimantan. Satwa ini merupakan salah satu primata terbesar di dunia sekaligus kerabat dekat manusia. Keberadaan orangutan menjadi simbol penting konservasi hutan tropis Indonesia karena kelangsungan hidupnya sangat bergantung pada keberadaan hutan yang sehat.
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:32 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:22 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:15 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:08 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:00 WIB
Perspektif
28 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:28 WIB