Hutan-hutan yang menyelimuti kawasan ini membentuk berbagai zona vegetasi sesuai ketinggian. Di bagian bawah terdapat hutan hujan tropis yang lebat dengan pepohonan tinggi dan kanopi yang rapat. Semakin mendekati puncak, vegetasi berubah menjadi hutan pegunungan yang lebih dingin dan sering diselimuti kabut. Pada beberapa lokasi, muncul hutan lumut yang memberikan suasana unik dan berbeda dari kawasan hutan tropis dataran rendah.
Keanekaragaman satwa di Gandang Dewata menjadi salah satu alasan utama perlindungan kawasan ini. Berbagai spesies burung endemik Sulawesi hidup di kawasan pegunungan tersebut. Penelitian yang dilakukan sebelum penetapan taman nasional menunjukkan bahwa Gandang Dewata merupakan habitat penting bagi banyak jenis burung yang hanya ditemukan di Sulawesi. Bahkan, ekspedisi ilmiah yang dilakukan di kawasan ini berhasil memperkaya data mengenai keanekaragaman hayati Wallacea yang sebelumnya masih belum banyak diketahui.
Selain burung, kawasan ini juga menjadi habitat berbagai mamalia khas Sulawesi. Salah satu yang paling terkenal adalah anoa, kerabat kerbau berukuran kecil yang hanya hidup di Pulau Sulawesi. Satwa pemalu ini sangat bergantung pada keberadaan hutan yang masih utuh. Kehadiran anoa menjadi indikator penting bahwa ekosistem Gandang Dewata masih memiliki kualitas lingkungan yang baik. Selain anoa, berbagai mamalia kecil, kuskus, hingga tupai endemik Sulawesi juga menghuni kawasan ini.
Keberadaan sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Gandang Dewata menambah nilai ekologis kawasan tersebut. Hutan pegunungan berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang sangat penting bagi masyarakat di wilayah hilir. Air yang mengalir dari kawasan ini mendukung kehidupan masyarakat, pertanian, dan berbagai aktivitas ekonomi di Sulawesi Barat.
Karena tingkat kealamian kawasan yang masih tinggi, Gandang Dewata sering dianggap sebagai salah satu laboratorium alam terbaik untuk mempelajari evolusi dan keanekaragaman hayati Wallacea. Para ilmuwan melihat kawasan ini sebagai wilayah yang masih menyimpan banyak misteri biologis yang belum sepenuhnya terungkap.
Menjaga Benteng Alam Sulawesi Barat untuk Masa Depan
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:32 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:22 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:15 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:08 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:00 WIB
Perspektif
28 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:28 WIB