Di tengah perkembangan pesat kawasan Sidoarjo, berdiri sebuah museum yang menyimpan jejak sejarah Jawa Timur dari masa prasejarah hingga era modern. Museum Mpu Tantular bukan hanya tempat penyimpanan benda-benda kuno, tetapi juga pusat pelestarian warisan budaya yang merekam perjalanan panjang masyarakat Jawa Timur selama ribuan tahun. Dengan ribuan koleksi yang berasal dari berbagai periode sejarah, museum ini menjadi salah satu museum terbesar dan terlengkap di Indonesia bagian timur.
Museum Mpu Tantular berlokasi di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Keberadaannya sangat penting karena berfungsi sebagai museum negeri provinsi yang mengumpulkan, merawat, dan memamerkan berbagai peninggalan budaya dari seluruh wilayah Jawa Timur. Koleksi yang tersimpan di dalamnya mencakup benda-benda geologi, arkeologi, etnografi, sejarah, numismatika, filologi, hingga karya seni yang menggambarkan perkembangan masyarakat Jawa Timur dari masa ke masa.
Nama "Mpu Tantular" sendiri diambil dari nama seorang pujangga besar pada masa Kerajaan Majapahit abad ke-14. Ia dikenal sebagai pengarang Kakawin Sutasoma yang memuat semboyan "Bhinneka Tunggal Ika", kalimat yang kemudian diadopsi sebagai semboyan resmi Republik Indonesia. Pemilihan nama tersebut mencerminkan semangat keberagaman budaya yang menjadi salah satu kekayaan utama Jawa Timur dan Indonesia secara keseluruhan.
Sejarah museum ini berawal pada tahun 1933 ketika seorang kolektor dan budayawan berkebangsaan Jerman yang tinggal di Surabaya, Godfried Hariowald von Faber, mendirikan Stedelijk Historisch Museum Soerabaia. Awalnya museum tersebut bertujuan mengumpulkan berbagai benda bersejarah yang berkaitan dengan Surabaya dan Jawa Timur. Setelah melalui berbagai perkembangan, museum diresmikan pada 25 Juli 1937 dan terus memperluas koleksinya.
Perjalanan museum tidak selalu berjalan mulus. Setelah wafatnya von Faber pada tahun 1955, pengelolaan museum sempat mengalami masa sulit. Sejumlah koleksi mengalami kerusakan dan sebagian lainnya hilang akibat kurangnya perawatan. Namun berbagai pihak kemudian berupaya menyelamatkan museum ini hingga akhirnya mendapat perhatian lebih besar dari pemerintah melalui Direktorat Permuseuman Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada tahun 1974 museum resmi berstatus sebagai Museum Negeri Jawa Timur dan diberi nama Museum Mpu Tantular.
Seiring bertambahnya jumlah koleksi, museum beberapa kali berpindah lokasi untuk mendapatkan ruang yang lebih luas. Setelah lama berada di Surabaya, pada tahun 2004 museum akhirnya menempati lokasi yang sekarang di Buduran, Sidoarjo, dengan area yang jauh lebih besar dan fasilitas yang lebih memadai.
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
16 Jun 2026, 22:00 WIB
Geopark
16 Jun 2026, 17:43 WIB
Geosite
15 Jun 2026, 20:28 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Peristiwa
15 Jun 2026, 6:08 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:59 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:58 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:51 WIB
Festival Budaya
14 Jun 2026, 12:50 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:48 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:47 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:42 WIB
Festival Budaya
12 Jun 2026, 10:33 WIB
Festival Budaya
12 Jun 2026, 9:19 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 9:18 WIB
Festival Budaya
12 Jun 2026, 9:18 WIB