Di sebelah selatan kompleks Prambanan, pada sebuah perbukitan yang menghadap hamparan dataran luas Yogyakarta dan Klaten, berdiri salah satu situs arkeologi paling unik di Indonesia. Situs tersebut dikenal sebagai Candi Ratu Boko, meskipun para arkeolog sepakat bahwa kawasan ini bukanlah candi dalam pengertian umum seperti Borobudur atau Prambanan. Ratu Boko merupakan kompleks arkeologi yang lebih tepat disebut sebagai kawasan keraton atau pusat aktivitas elite pada masa Jawa Kuno.
Keunikan inilah yang membuat Ratu Boko berbeda dari sebagian besar situs Hindu-Buddha di Indonesia. Jika candi-candi lain umumnya berfungsi sebagai tempat pemujaan, Ratu Boko memperlihatkan jejak sebuah kompleks yang kemungkinan digunakan sebagai pusat pemerintahan, tempat tinggal bangsawan, pusat keagamaan, atau kombinasi dari berbagai fungsi tersebut. Bentuk bangunannya yang luas dan beragam menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran penting dalam kehidupan politik dan budaya Jawa pada abad ke-8 hingga ke-9 Masehi.
Terletak sekitar 196 meter di atas permukaan laut, Ratu Boko menawarkan pemandangan yang sulit ditemukan di situs arkeologi lainnya. Dari kawasan ini, pengunjung dapat melihat hamparan Dataran Prambanan, siluet Gunung Merapi di utara, serta perbukitan yang membentang hingga cakrawala. Kombinasi antara nilai sejarah dan panorama alam menjadikan Ratu Boko sebagai salah satu destinasi budaya paling menarik di Yogyakarta.
Nama Ratu Boko sendiri berasal dari legenda rakyat yang berkembang di Jawa. Dalam cerita rakyat yang kemudian dikaitkan dengan kisah Loro Jonggrang, Ratu Boko disebut sebagai seorang raja yang memiliki hubungan dengan kerajaan di kawasan Prambanan. Namun, kisah tersebut merupakan bagian dari tradisi folklor dan tidak dapat dianggap sebagai sumber sejarah mengenai asal-usul situs ini. Sejarah Ratu Boko justru terungkap melalui prasasti, penelitian arkeologi, dan kajian ilmiah yang dilakukan selama lebih dari satu abad.
Jejak Keraton Jawa Kuno dari Abad ke-8
Informasi mengenai sejarah awal Ratu Boko berasal dari sejumlah prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut. Salah satu sumber terpenting adalah Prasasti Abhayagiri Wihara yang bertarikh tahun 792 Masehi. Prasasti ini menyebutkan bahwa seorang tokoh bernama Rakai Panangkaran mendirikan sebuah wihara bernama Abhayagiri Wihara, yang berarti biara di bukit yang damai.
Museum
29 Mei 2026, 15:43 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:32 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:22 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:15 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:08 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:00 WIB
Perspektif
28 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB