Indonesia memiliki kekayaan busana adat yang lahir dari beragam budaya, lingkungan, dan sejarah masyarakatnya. Di setiap daerah, pakaian tradisional bukan sekadar penutup tubuh, melainkan juga simbol identitas, pengetahuan lokal, hingga cerminan hubungan manusia dengan alam. Di Provinsi Sulawesi Utara, salah satu warisan budaya yang patut mendapat perhatian lebih luas adalah Busana Adat Laku Tepu. Meski belum sepopuler baju Bodo dari Sulawesi Selatan atau Ulos dari Sumatra Utara, Laku Tepu menyimpan nilai sejarah dan filosofi yang sangat menarik.
Laku Tepu merupakan busana tradisional masyarakat Kepulauan Sangihe yang memiliki ciri khas pada bahan pembuatannya. Berbeda dengan kebanyakan pakaian adat Nusantara yang menggunakan kain tenun berbahan kapas atau sutra, Laku Tepu dibuat dari serat tanaman kofo, yaitu sejenis pisang abaka (Musa textilis). Tanaman ini telah lama tumbuh di wilayah Sangihe dan dimanfaatkan oleh masyarakat setempat sebagai sumber serat alami yang kuat, lentur, dan tahan lama.
Pemanfaatan serat kofo menunjukkan kecerdasan masyarakat Sangihe dalam mengolah sumber daya alam di sekitarnya. Jauh sebelum tekstil modern dikenal luas, masyarakat telah mampu menghasilkan kain berkualitas melalui proses tradisional yang diwariskan secara turun-temurun. Keterampilan tersebut menjadi bukti bahwa budaya maritim di kawasan utara Sulawesi juga melahirkan inovasi dalam bidang sandang yang tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia.
Kini, Laku Tepu tidak lagi digunakan sebagai pakaian sehari-hari. Kehadirannya lebih banyak ditemukan dalam upacara adat, pertunjukan seni, festival budaya, hingga kegiatan promosi pariwisata. Meski demikian, nilai yang terkandung di dalamnya tetap hidup sebagai bagian penting dari identitas masyarakat Sangihe.
Sejarah Laku Tepu berakar pada kehidupan masyarakat Kepulauan Sangihe yang sejak dahulu hidup berdampingan dengan alam. Kondisi geografis kepulauan yang kaya akan tanaman tropis mendorong masyarakat memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk dalam membuat pakaian. Salah satu tanaman yang memiliki nilai penting adalah kofo atau abaka.
Kofo bukan sekadar tanaman biasa. Serat yang terdapat pada pelepahnya memiliki kekuatan tinggi sehingga sejak lama dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, mulai dari tali, anyaman, hingga bahan pembuatan kain. Masyarakat Sangihe kemudian mengembangkan teknik pengolahan serat tersebut menjadi benang yang dapat ditenun menjadi lembaran kain.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:51 WIB