Di jantung Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang telah menyaksikan berbagai babak perjalanan bangsa selama hampir dua abad. Benteng ini dikenal dengan nama Fort Van der Capellen, salah satu peninggalan kolonial Belanda yang masih berdiri kokoh hingga sekarang. Berbeda dengan benteng-benteng pesisir yang dibangun untuk mempertahankan jalur perdagangan laut, Fort Van der Capellen hadir sebagai simbol penguasaan Belanda atas wilayah pedalaman Minangkabau setelah berakhirnya Perang Padri.
Kini, kawasan benteng tidak lagi dipenuhi suara dentuman meriam atau langkah pasukan bersenjata. Sebaliknya, suasananya berubah menjadi ruang publik yang tenang dengan pepohonan rindang, bangunan kolonial yang terawat, serta lingkungan yang sarat nilai sejarah. Kehadirannya menjadi daya tarik wisata sejarah sekaligus pengingat bahwa setiap bangunan tua menyimpan kisah panjang yang membentuk perjalanan Indonesia.
Lokasinya yang berada di pusat Kota Batusangkar juga membuat Fort Van der Capellen mudah dikunjungi bersamaan dengan destinasi budaya lain, seperti Istana Pagaruyung dan berbagai situs peninggalan Kerajaan Minangkabau. Karena itu, benteng ini menjadi salah satu tujuan favorit wisatawan yang ingin memahami sejarah Sumatera Barat secara lebih mendalam.
Dari Perang Padri hingga Menjadi Pusat Pemerintahan Kolonial
Fort Van der Capellen dibangun pada tahun 1824 atas perintah pemerintah kolonial Hindia Belanda. Nama benteng ini diambil dari Godert Alexander Gerard Philip van der Capellen, Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada periode 1816–1826. Pembangunan benteng merupakan bagian dari strategi Belanda untuk memperkuat kekuasaan mereka di kawasan pedalaman Minangkabau setelah campur tangan dalam Perang Padri.
Pada awal abad ke-19, wilayah Minangkabau sedang dilanda konflik internal antara Kaum Padri yang menghendaki penerapan ajaran Islam secara lebih ketat dan Kaum Adat yang mempertahankan tradisi lokal. Belanda memanfaatkan situasi tersebut dengan memberikan dukungan militer kepada Kaum Adat. Setelah berhasil memperluas pengaruhnya, pemerintah kolonial mendirikan benteng sebagai markas utama sekaligus pusat administrasi.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB