Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Maluku Utara
»
Benteng Kolonial


Jejak Rempah dan Perebutan Kekuasaan, Menyusuri Pesona Benteng Kastela di Ternate

Foto: Dimulai oleh Antonio de Brito pada tahun 1522 dan dirampungkan oleh Jorge de Castro pada tahun 1540
Warta Konsumen Indonesia

Ternate, Indonesianer.com -- Benteng Kastela adalah benteng kolonial pertama di Kepulauan Maluku yang dibangun Portugis pada tahun 1522. Terletak di Kelurahan Kastela, Pulau Ternate, Maluku Utara, cagar budaya ini terkenal sebagai lokasi tragis pembunuhan Sultan Khairun pada 1570 dan kini menjadi situs sejarah dengan sisa reruntuhan.

Di pesisir barat Pulau Ternate, berdiri sebuah situs bersejarah yang menjadi saksi bisu awal mula persaingan bangsa-bangsa Eropa dalam memperebutkan rempah-rempah Nusantara. Benteng Kastela mungkin tidak semegah benteng kolonial lain yang masih utuh, tetapi reruntuhannya justru menyimpan kisah panjang tentang perdagangan cengkih, persekutuan politik, peperangan, hingga perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme. Bagi wisatawan yang menyukai sejarah, tempat ini menawarkan pengalaman berbeda karena setiap batu yang tersisa seolah membawa pengunjung kembali ke awal abad ke-16, ketika Ternate menjadi salah satu pusat perdagangan paling penting di dunia.

Benteng Kastela terletak di Kelurahan Kastela, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Ternate. Lokasinya berada di tepi pantai dengan latar belakang Gunung Gamalama yang menjulang megah. Perpaduan panorama laut, pegunungan, dan peninggalan sejarah menjadikan kawasan ini memiliki daya tarik tersendiri. Tidak hanya menawarkan wisata sejarah, kawasan sekitar benteng juga menghadirkan suasana tenang yang jauh dari keramaian kota.

Nama Kastela berasal dari kata "Castela" atau "Castella", yang merujuk pada benteng bangsa Portugis. Dalam berbagai sumber sejarah, benteng ini juga dikenal sebagai Benteng Santo Yohanes Baptista atau São João Baptista. Benteng tersebut merupakan benteng pertama yang dibangun Portugis di Kepulauan Maluku setelah mereka berhasil mencapai Ternate pada awal abad ke-16. Kehadiran benteng ini menjadi titik awal perubahan besar dalam sejarah kawasan timur Indonesia.

Pada masa itu, Ternate merupakan salah satu kerajaan Islam terkuat di Maluku. Kesultanan Ternate menguasai perdagangan cengkih yang menjadi komoditas paling berharga di pasar internasional. Bangsa Portugis yang baru saja menemukan jalur pelayaran menuju Asia melihat Ternate sebagai mitra strategis sekaligus pintu masuk untuk menguasai perdagangan rempah-rempah.

Hubungan awal antara Portugis dan Kesultanan Ternate sebenarnya berlangsung cukup baik. Sultan Ternate mengizinkan Portugis mendirikan benteng sebagai bentuk kerja sama dagang sekaligus pertahanan menghadapi musuh bersama. Sebagai imbalannya, Portugis memperoleh hak berdagang dan perlindungan selama berada di wilayah Ternate.

Pembangunan benteng dimulai sekitar tahun 1522 di bawah pengawasan Antonio de Brito. Lokasi yang dipilih sangat strategis karena berada di tepi laut sehingga kapal-kapal dagang dapat langsung berlabuh. Dari benteng ini, Portugis mengatur aktivitas perdagangan cengkih, mengendalikan jalur pelayaran, serta memperkuat pengaruh politik mereka di Maluku.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua