Ciri paling mencolok tentu saja terletak pada kedua matanya. Dibandingkan ukuran tubuhnya, mata tarsius merupakan salah satu yang terbesar di dunia mamalia. Setiap bola mata bahkan hampir sebesar ukuran otaknya sendiri. Karena ukurannya yang besar, mata tersebut tidak dapat bergerak ke kanan maupun kiri seperti manusia. Sebagai gantinya, tarsius mampu memutar kepalanya hingga sekitar 180 derajat ke berbagai arah sehingga tetap dapat mengamati lingkungan tanpa harus memindahkan posisi tubuh.
Pendengarannya pun luar biasa tajam. Telinga yang tipis dan lebar dapat bergerak mengikuti arah datangnya suara sehingga membantu mendeteksi keberadaan mangsa maupun ancaman. Kemampuan ini menjadi modal penting bagi satwa nokturnal yang lebih aktif pada malam hari.
Berbeda dengan banyak primata lain yang memakan buah, tarsius merupakan karnivora sejati. Menu utamanya terdiri atas belalang, jangkrik, kumbang, laba-laba, ngengat, kadal kecil, katak, bahkan sesekali burung berukuran mungil. Setelah menemukan mangsa, tarsius akan menghitung jarak dengan sangat presisi sebelum melompat cepat untuk menangkapnya menggunakan kedua tangan.
Aktivitas mereka dimulai menjelang senja. Saat matahari terbenam, kelompok tarsius perlahan keluar dari tempat tidurnya yang biasanya berupa rumpun bambu, pohon berlubang, atau vegetasi yang rapat. Mereka kemudian berpencar mencari makanan sepanjang malam sebelum kembali beristirahat ketika fajar menyingsing.
Meskipun sering terlihat hidup berkelompok kecil, tarsius sebenarnya memiliki wilayah jelajah yang dijaga bersama pasangan atau anggota keluarganya. Mereka berkomunikasi menggunakan berbagai suara bernada tinggi yang sebagian bahkan berada pada frekuensi ultrasonik sehingga tidak dapat didengar telinga manusia. Penelitian modern menunjukkan bahwa komunikasi ultrasonik tersebut membantu mereka tetap saling terhubung tanpa mudah diketahui predator.
Keberadaan tarsius juga memiliki fungsi ekologis yang penting. Sebagai predator serangga, mereka membantu menjaga keseimbangan populasi berbagai jenis serangga di dalam hutan. Dengan demikian, tarsius turut berperan dalam mempertahankan stabilitas ekosistem hutan tropis Sulawesi.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB