Kanguru tanah memiliki kemampuan beradaptasi yang sangat baik terhadap berbagai tipe habitat. Di Papua Selatan, satwa ini dapat ditemukan pada hutan terbuka, kawasan savana, semak belukar, hingga padang rumput yang berbatasan dengan hutan. Mereka cenderung memilih lokasi yang memiliki cukup tutupan vegetasi sebagai tempat berlindung dari predator maupun cuaca panas.
Aktivitas kanguru tanah lebih banyak berlangsung pada pagi dan sore hari. Saat siang yang terik, mereka biasanya beristirahat di bawah pepohonan atau semak yang rapat. Pola hidup seperti ini membantu mereka menghemat energi sekaligus menghindari suhu tinggi yang dapat meningkatkan risiko dehidrasi.
Makanan utama kanguru tanah berupa rumput, daun muda, pucuk tanaman, biji-bijian, serta berbagai tumbuhan liar yang tumbuh di habitat alaminya. Sistem pencernaan mereka dirancang untuk mengolah serat tumbuhan secara efisien sehingga mampu bertahan di lingkungan yang sumber makanannya berubah mengikuti musim.
Cara bergerak kanguru tanah menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Kedua kaki belakang yang panjang dan kuat memungkinkan mereka melompat dengan kecepatan tinggi ketika merasa terganggu. Sementara itu, ekor yang panjang berfungsi sebagai penyeimbang tubuh saat melompat maupun ketika berdiri tegak. Gerakan tersebut membuat mereka mampu melewati semak, batang kayu tumbang, maupun medan bergelombang dengan sangat lincah.
Induk kanguru tanah memiliki kantong di bagian perut sebagai tempat membesarkan anak. Setelah lahir, bayi kanguru yang ukurannya sangat kecil akan merangkak menuju kantong induknya. Di dalam kantong tersebut, anak kanguru memperoleh perlindungan sekaligus asupan susu hingga cukup kuat untuk mulai keluar dan mengikuti induknya mencari makan. Bahkan setelah mampu berjalan sendiri, anak kanguru masih sering kembali ke dalam kantong apabila merasa terancam.
Di alam liar, kanguru tanah memiliki berbagai musuh alami, termasuk buaya di kawasan rawa, ular besar, serta anjing liar. Namun, ancaman terbesar justru berasal dari aktivitas manusia. Perubahan fungsi lahan menjadi kawasan permukiman, pertanian, maupun pembangunan infrastruktur dapat mengurangi luas habitat yang tersedia. Perburuan yang tidak terkendali juga berpotensi menurunkan jumlah populasi apabila tidak diimbangi dengan pengelolaan yang berkelanjutan.
Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB
Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB
Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB
Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB
Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB
Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB
Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB
Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB
Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB
Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB
Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB
Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB