Pohon cendana merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia yang telah dikenal dunia sejak berabad-abad lalu. Aroma kayunya yang khas, lembut, dan mampu bertahan sangat lama menjadikan cendana sebagai komoditas bernilai tinggi. Dari masa kerajaan hingga perdagangan internasional, kayu cendana selalu memiliki tempat istimewa karena dimanfaatkan sebagai bahan wewangian, ukiran, kerajinan, obat tradisional, hingga keperluan ritual keagamaan.
Di Indonesia, nama cendana sangat lekat dengan Pulau Timor di Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bahkan, daerah ini pernah dijuluki sebagai Pulau Cendana karena hutan-hutannya dahulu dipenuhi oleh pohon berharga tersebut. Kayu cendana menjadi salah satu komoditas utama yang diperdagangkan ke berbagai penjuru Asia sejak ratusan tahun silam. Pedagang dari India, Tiongkok, hingga Timur Tengah datang untuk mendapatkan kayu harum yang hanya tumbuh baik di kawasan tropis tertentu.
Pohon cendana memiliki nama ilmiah Santalum album. Tanaman ini termasuk keluarga Santalaceae dan dikenal sebagai tumbuhan semi-parasit. Artinya, meskipun mampu melakukan fotosintesis sendiri, akarnya tetap membutuhkan tanaman lain sebagai inang untuk membantu memperoleh air dan unsur hara selama masa pertumbuhan. Karakter unik inilah yang membuat budidaya cendana tidak semudah menanam pohon kayu biasa.
Secara fisik, pohon cendana memiliki tinggi antara 10 hingga 20 meter ketika telah dewasa. Batangnya tidak terlalu besar, tetapi kayunya padat dan kuat. Kulit batang berwarna cokelat keabu-abuan dengan permukaan agak kasar. Daunnya berbentuk lonjong, berwarna hijau mengilap, sedangkan bunganya berukuran kecil dengan warna yang dapat berubah dari putih kehijauan menjadi kemerahan ketika semakin tua.
Hal paling berharga dari pohon ini bukanlah bentuknya, melainkan inti kayunya. Bagian teras kayu mengandung minyak atsiri yang menghasilkan aroma khas. Semakin tua usia pohon, umumnya semakin tinggi pula kandungan minyaknya. Oleh sebab itu, pohon cendana baru dianggap memiliki nilai ekonomi tinggi setelah berumur puluhan tahun.
Indonesia bukan satu-satunya negara penghasil cendana. Tanaman ini juga ditemukan di India, Australia, Sri Lanka, hingga beberapa wilayah Pasifik. Namun, cendana asal Indonesia memiliki reputasi yang sangat baik karena kualitas aromanya yang lembut, hangat, dan tahan lama. Selama berabad-abad, kayu cendana dari Nusantara menjadi salah satu produk ekspor unggulan yang sangat diminati pasar internasional.
Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera
05 Jul 2026, 16:51 WIB
Fauna
05 Jul 2026, 12:32 WIB
Flora
29 Jun 2026, 15:38 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:37 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:36 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:32 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:31 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:29 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Geoheritage
26 Jun 2026, 11:34 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 9:10 WIB
Tradisi
26 Jun 2026, 8:42 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB