Di ujung timur Indonesia, berdiri sebuah pulau vulkanik yang tampak tenang dengan lereng hijau menghadap laut biru. Sekilas, Pulau Tidore mungkin hanya terlihat sebagai salah satu pulau kecil di Kepulauan Maluku Utara. Namun, di balik bentang alamnya yang memesona, Tidore menyimpan kisah luar biasa tentang sebuah rempah yang pernah menjadi komoditas paling berharga di dunia. Rempah itu adalah pala.
Nama pala dari Tidore mungkin tidak sepopuler pala Banda dalam berbagai catatan sejarah. Akan tetapi, Tidore memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjalanan perdagangan rempah Nusantara. Selama berabad-abad, pulau ini menjadi salah satu pusat kekuasaan Kesultanan Tidore yang mengendalikan jalur perdagangan rempah di kawasan timur Indonesia. Aroma pala yang tumbuh di lereng-lereng subur pulau ini ikut mengundang para pedagang dari Arab, India, Tiongkok, hingga bangsa-bangsa Eropa untuk berlayar ribuan kilometer melintasi samudra.
Hingga kini, pala tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Tidore. Pohon-pohon pala masih tumbuh berdampingan dengan cengkih, kelapa, dan berbagai tanaman tropis lainnya. Bagi warga setempat, pala bukan sekadar tanaman perkebunan, melainkan warisan sejarah yang telah membentuk identitas daerah selama ratusan tahun.
Iklim tropis yang lembap, curah hujan tinggi, serta tanah vulkanik yang subur menjadikan Tidore sebagai habitat ideal bagi pohon pala. Tanaman ini dapat tumbuh hingga belasan meter dengan tajuk yang rindang. Saat musim panen tiba, buah pala berwarna kuning keemasan akan merekah dengan sendirinya, memperlihatkan biji yang dibungkus selaput merah cerah bernama fuli atau mace.
Keunikan pala terletak pada hampir seluruh bagian buahnya yang memiliki nilai ekonomi. Daging buah dapat diolah menjadi manisan, sirup, dodol, selai, hingga berbagai minuman khas. Biji pala menjadi rempah bernilai tinggi untuk kebutuhan kuliner dan industri makanan, sedangkan fuli sering dimanfaatkan sebagai bumbu masakan premium karena memiliki aroma yang lebih lembut namun kaya cita rasa.
Di Tidore, pemanfaatan pala berlangsung secara turun-temurun. Banyak keluarga mengolah hasil panen menjadi produk rumahan yang dipasarkan kepada wisatawan maupun dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Kreativitas masyarakat dalam mengembangkan produk berbasis pala turut membantu menjaga nilai tambah hasil perkebunan agar tidak hanya bergantung pada penjualan biji kering.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB