Di tengah lebatnya hutan tropis Sulawesi, terdapat banyak satwa endemik yang telah lama menarik perhatian para peneliti. Nama-nama seperti anoa, babirusa, tarsius, dan maleo sering menjadi ikon keanekaragaman hayati pulau berbentuk huruf K tersebut. Namun, di balik popularitas satwa-satwa itu, masih ada penghuni hutan lain yang jarang mendapat sorotan. Salah satunya adalah tupai tanah Sulawesi, mamalia kecil yang menghabiskan sebagian besar hidupnya di permukaan tanah, berbeda dengan kebanyakan tupai yang akrab dengan pepohonan.
Keberadaan tupai tanah menjadi bukti bahwa proses evolusi di Sulawesi menghasilkan bentuk-bentuk kehidupan yang unik. Pulau ini memang dikenal sebagai wilayah peralihan antara Asia dan Australia, sehingga memiliki tingkat endemisme yang sangat tinggi. Banyak satwa berkembang secara terisolasi selama jutaan tahun hingga membentuk spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.
Meski ukurannya relatif kecil dan penampilannya sederhana, tupai tanah memainkan peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan. Satwa ini membantu penyebaran biji, mengendalikan populasi serangga, sekaligus menjadi bagian dari rantai makanan alami. Sayangnya, karena sifatnya pemalu dan aktif di lantai hutan yang lebat, keberadaannya lebih sering diketahui para peneliti dibanding wisatawan.
Adaptasi Unik di Lantai Hutan Tropis
Berbeda dengan tupai pohon yang lincah melompat dari satu cabang ke cabang lainnya, tupai tanah Sulawesi lebih banyak bergerak di atas permukaan tanah. Tubuhnya relatif ramping dengan kaki yang kuat untuk berlari cepat melewati dedaunan kering, akar pohon, dan bebatuan. Ekor tetap berfungsi sebagai alat penyeimbang, tetapi tidak sepanjang atau seberumbai beberapa jenis tupai arboreal.
Warna bulunya umumnya didominasi cokelat, abu-abu, atau kecokelatan gelap. Warna tersebut menjadi kamuflase alami yang sangat efektif di antara serasah daun. Ketika merasa terancam, tupai tanah biasanya tidak langsung memanjat pohon, melainkan berlari zig-zag menuju semak rapat atau celah batu untuk menghindari predator.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB