Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Rumah Adat
»
Detail Berita


Rumah Joglo, Simbol Keluhuran Falsafah Hidup Masyarakat Jawa

Foto: Di balik setiap tiang, ruang, dan bentuk atapnya tersimpan filosofi mendalam yang mencerminkan cara masyarakat Jawa memandang hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Di atas saka guru terdapat susunan balok kayu bertingkat yang disebut tumpang sari. Struktur ini sering dihiasi ukiran yang indah dan menjadi salah satu elemen paling artistik dalam Rumah Joglo. Selain berfungsi memperkuat konstruksi atap, tumpang sari juga melambangkan tingkatan kehidupan manusia dalam mencapai kesempurnaan batin.

Sebagian besar Rumah Joglo tradisional dibangun menggunakan material kayu berkualitas tinggi, terutama kayu jati. Pemilihan kayu jati bukan tanpa alasan. Selain terkenal kuat dan tahan lama, kayu ini dianggap memiliki nilai estetika yang tinggi. Banyak Rumah Joglo berusia ratusan tahun yang masih berdiri kokoh hingga sekarang, membuktikan kualitas teknik konstruksi tradisional Jawa yang sangat maju pada masanya.

Keistimewaan lain Rumah Joglo terlihat pada tata ruangnya yang terstruktur dengan jelas. Bagian paling depan biasanya berupa pendopo, yaitu ruang terbuka tanpa dinding yang digunakan untuk menerima tamu, mengadakan pertemuan, atau menyelenggarakan kegiatan sosial. Pendopo mencerminkan sifat keterbukaan masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi hubungan sosial dan keramahan terhadap sesama.

Di belakang pendopo terdapat pringgitan yang berfungsi sebagai ruang peralihan antara area publik dan area keluarga. Nama pringgitan berasal dari kata ringgit atau wayang, karena pada masa lalu ruang ini sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit. Keberadaan pringgitan menunjukkan pentingnya seni dan budaya dalam kehidupan masyarakat Jawa.

Lebih ke dalam terdapat dalem atau omah njero yang menjadi pusat kehidupan keluarga. Ruangan ini bersifat lebih privat dan digunakan untuk aktivitas sehari-hari anggota keluarga. Pada bagian belakang biasanya terdapat senthong, yaitu kamar-kamar yang memiliki fungsi khusus. Dalam tradisi Jawa, senthong tengah sering dianggap sebagai ruang paling sakral karena berkaitan dengan penghormatan terhadap leluhur dan simbol kesuburan keluarga.

Pembagian ruang yang teratur tersebut menunjukkan bahwa Rumah Joglo dirancang bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan fisik penghuni, tetapi juga untuk menjaga keseimbangan antara kehidupan sosial, kehidupan keluarga, dan kehidupan spiritual. Setiap ruang memiliki makna dan fungsi yang saling melengkapi, menciptakan harmoni yang menjadi salah satu ciri utama budaya Jawa.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Istana Raja Bima Asi Mbojo, Simbol Kesultanan di Pulau Sumbawa

Istana Raja Bima Asi Mbojo, Simbol Kesultanan di Pulau Sumbawa

Istana Nusantara

Saoraja Lapinceng, Istana Kerajaan Bone yang Bersejarah

Saoraja Lapinceng, Istana Kerajaan Bone yang Bersejarah

Istana Nusantara

Istana Balla Lompoa, Pusat Kerajaan Gowa yang Sarat Tradisi

Istana Balla Lompoa, Pusat Kerajaan Gowa yang Sarat Tradisi

Istana Nusantara

Dalam Loka Sumbawa, Istana Kayu Terbesar Kebanggaan Nusa Tenggara Barat

Dalam Loka Sumbawa, Istana Kayu Terbesar Kebanggaan Nusa Tenggara Barat

Istana Nusantara

Keraton Surosowan Banten, Menelusuri Pusat Kekuasaan Kesultanan Banten

Keraton Surosowan Banten, Menelusuri Pusat Kekuasaan Kesultanan Banten

Istana Nusantara

Pilihan Redaksi

Keraton Kaibon Banten, Reruntuhan Istana yang Menyimpan Kisah Kesultanan

Keraton Kaibon Banten, Reruntuhan Istana yang Menyimpan Kisah Kesultanan

Istana Nusantara

Keraton Sumenep, Perpaduan Budaya Madura, Jawa, dan Eropa

Keraton Sumenep, Perpaduan Budaya Madura, Jawa, dan Eropa

Istana Nusantara

Festival Sandeq Polewali Mandar, Balapan Perahu Tradisional Sulawesi Barat

Festival Sandeq Polewali Mandar, Balapan Perahu Tradisional Sulawesi Barat

Festival Budaya

Festival Budaya Isen Mulang, Kebanggaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Festival Budaya Isen Mulang, Kebanggaan Suku Dayak Kalimantan Tengah

Festival Budaya

Festival Tanjung Kelayang, Melestarikan Budaya Bahari Pulau Belitung

Festival Tanjung Kelayang, Melestarikan Budaya Bahari Pulau Belitung

Festival Budaya

Baca Juga

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Tarian Kolosal di Tepi Selat Bali

Festival Gandrung Sewu Banyuwangi, Tarian Kolosal di Tepi Selat Bali

Festival Budaya

Mengenang Letusan Bersejarah Gunung Krakatau yang Mengubah Dunia

Mengenang Letusan Bersejarah Gunung Krakatau yang Mengubah Dunia

Festival Budaya

Tomohon International Flower Festival, Karnaval Bunga dari Sulawesi Utara

Tomohon International Flower Festival, Karnaval Bunga dari Sulawesi Utara

Festival Budaya

Festival Tabut Bengkulu, Jejak Sejarah Islam dalam Tradisi Nusantara

Festival Tabut Bengkulu, Jejak Sejarah Islam dalam Tradisi Nusantara

Festival Budaya

Eksplorasi Geopark Gunung Sewu, Negeri Seribu Bukit Karst Nusantara

Eksplorasi Geopark Gunung Sewu, Negeri Seribu Bukit Karst Nusantara

Geopark

Berita Lainnya

Ciletuh Amphitheater, Warisan Geologi Purba di Sukabumi, Jawa Barat

Ciletuh Amphitheater, Warisan Geologi Purba di Sukabumi, Jawa Barat

Geopark

Festival Danau Toba, Sebuah Perpaduan Alam dan Tradisi Budaya Batak

Festival Danau Toba, Sebuah Perpaduan Alam dan Tradisi Budaya Batak

Festival Budaya

Festival Lembah Baliem, Atraksi Budaya Suku-Suku dari Pegunungan Papua

Festival Lembah Baliem, Atraksi Budaya Suku-Suku dari Pegunungan Papua

Festival Budaya

Merawat Tradisi Sakralnya Kirab Malam 1 Suro di Surakarta

Merawat Tradisi Sakralnya Kirab Malam 1 Suro di Surakarta

Peristiwa

Kisah Sukses Pengembangan Pariwisata Desa Wisata Ponggok Klaten

Kisah Sukses Pengembangan Pariwisata Desa Wisata Ponggok Klaten

Desa Wisata

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua