Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Arkeologi
»
Detail Berita


Candi Pawon, Mata Rantai Spiritual antara Mendut dan Borobudur

Foto: Candi Pawon ini diperkirakan dibangun bersamaan pada pertengan abad ke 8 Masehi yaitu bersama dengan Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Prambanan.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Tidak seperti Borobudur yang disebut dalam beberapa sumber sejarah dan tidak seperti Mendut yang dikaitkan dengan Prasasti Karangtengah tahun 824 Masehi, informasi mengenai Candi Pawon relatif lebih terbatas. Hingga kini belum ditemukan prasasti yang secara langsung menyebutkan nama asli bangunan tersebut.

Meski demikian, berdasarkan gaya arsitektur dan kesamaan unsur seni bangunannya, para ahli umumnya sepakat bahwa Pawon dibangun pada masa yang sama dengan Mendut dan Borobudur, yaitu sekitar abad ke-8 hingga awal abad ke-9 Masehi pada masa kejayaan Wangsa Syailendra.

Nama Pawon sendiri berasal dari bahasa Jawa yang berarti dapur. Sebagian peneliti menduga nama tersebut muncul jauh setelah masa pembangunan candi dan tidak berkaitan dengan fungsi aslinya. Ada pula pendapat yang menghubungkan istilah tersebut dengan kata awu yang berarti abu, sehingga memunculkan dugaan bahwa bangunan ini pernah digunakan untuk menyimpan abu jenazah tokoh penting. Namun hingga kini tidak ada bukti arkeologis yang cukup kuat untuk memastikan teori tersebut.

Yang lebih menarik adalah posisi geografis Pawon yang berada tepat di antara Mendut dan Borobudur. Jaraknya sekitar 1,7 kilometer dari Mendut dan sekitar 1,2 kilometer dari Borobudur. Ketiga bangunan tersebut membentuk jalur yang hingga kini masih digunakan dalam prosesi Hari Raya Waisak.

Dalam perayaan Waisak modern, ribuan umat Buddha melakukan perjalanan ritual dari Mendut menuju Pawon dan kemudian berakhir di Borobudur. Tradisi ini sering dianggap sebagai kelanjutan dari konsep spiritual yang telah ada sejak masa pembangunan ketiga candi tersebut, meskipun bentuk ritual pada masa kuno tidak dapat diketahui secara pasti.

Beberapa ahli berpendapat bahwa jalur Mendut–Pawon–Borobudur melambangkan perjalanan spiritual menuju pencerahan. Dalam interpretasi ini, Mendut berfungsi sebagai titik awal pembelajaran, Pawon sebagai tahap penyucian diri, dan Borobudur sebagai simbol pencapaian kesempurnaan spiritual. Meski interpretasi tersebut tidak dapat dibuktikan sepenuhnya melalui sumber tertulis, susunan geografis dan hubungan arsitektural ketiga candi mendukung adanya keterkaitan konseptual yang kuat.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Heritage Nusantara

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Heritage Nusantara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Heritage Nusantara

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Heritage Nusantara

Pilihan Redaksi

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Heritage Nusantara

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Perspektif

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Kuliner

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Kuliner

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Kuliner

Baca Juga

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Kuliner

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Kuliner

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kuliner

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Kuliner

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Kuliner

Berita Lainnya

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Kuliner

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Kuliner

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Kuliner

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Kuliner

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Kuliner

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua