Di tengah hamparan sawah dan desa-desa yang tenang di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, berdiri sebuah kompleks percandian yang menyimpan keindahan arsitektur sekaligus kisah sejarah yang menarik. Kompleks itu adalah Candi Plaosan, salah satu peninggalan masa Mataram Kuno yang sering disebut sebagai simbol harmoni dan cinta dalam sejarah Jawa. Berbeda dengan banyak candi lain yang lebih dikenal karena ukuran atau kemegahannya, Plaosan justru terkenal karena kisah di balik pembangunannya yang menghubungkan dua tradisi keagamaan besar di Nusantara: Buddha dan Hindu.
Bagi wisatawan yang pertama kali berkunjung, Candi Plaosan menghadirkan suasana yang berbeda. Kompleks ini tidak semonumental Borobudur dan tidak setinggi Prambanan, tetapi memiliki keanggunan tersendiri. Deretan candi yang tersusun rapi, relief yang halus, serta latar belakang Gunung Merapi menciptakan panorama yang memikat. Keindahan tersebut semakin menarik karena Plaosan menyimpan cerita sejarah yang hingga kini masih menjadi bahan kajian para ahli.
Kompleks Candi Plaosan berada tidak jauh dari kawasan Prambanan. Secara administratif, situs ini terletak di Desa Bugisan, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Kedekatannya dengan berbagai candi besar lainnya menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi salah satu pusat penting peradaban Jawa Kuno pada abad ke-8 dan ke-9.
Candi Plaosan dikenal sebagai kompleks candi Buddha yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Namun, yang membuatnya istimewa adalah adanya bukti kuat bahwa pembangunan kompleks ini berkaitan erat dengan hubungan antara seorang pangeran Hindu dan seorang putri Buddha. Kisah tersebut kemudian melahirkan anggapan bahwa Plaosan merupakan salah satu simbol cinta paling terkenal dalam sejarah arsitektur Nusantara.
Jejak Sejarah di Balik Kisah Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani
Sebagian besar sejarawan mengaitkan pembangunan Candi Plaosan dengan masa pemerintahan Rakai Pikatan dan Pramodhawardhani pada abad ke-9 Masehi. Rakai Pikatan merupakan penguasa dari Wangsa Sanjaya yang beragama Hindu Siwa, sedangkan Pramodhawardhani adalah putri dari Wangsa Syailendra yang dikenal sebagai pendukung ajaran Buddha Mahayana.
Museum
29 Mei 2026, 15:43 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:32 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:22 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:15 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:08 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:00 WIB
Perspektif
28 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB