Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Arkeologi
»
Detail Berita


Candi Pawon, Mata Rantai Spiritual antara Mendut dan Borobudur

Foto: Candi Pawon ini diperkirakan dibangun bersamaan pada pertengan abad ke 8 Masehi yaitu bersama dengan Candi Borobudur, Candi Mendut dan Candi Prambanan.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Dari segi konstruksi, Pawon menunjukkan kualitas teknik bangunan yang sangat baik. Meskipun telah berusia lebih dari seribu tahun dan mengalami berbagai peristiwa alam, struktur utamanya tetap bertahan dengan kondisi yang relatif baik. Hal ini menunjukkan tingkat penguasaan teknologi bangunan batu yang tinggi pada masa Mataram Kuno.

Seperti banyak situs kuno lainnya, Pawon sempat mengalami masa penelantaran setelah kemunduran kerajaan-kerajaan Hindu-Buddha di Jawa. Selama berabad-abad, bangunan ini tertutup tanah, vegetasi, dan endapan material alam. Keberadaannya kembali mendapat perhatian pada abad ke-19 ketika para peneliti kolonial mulai mendokumentasikan berbagai peninggalan arkeologi di Jawa.

Pemugaran besar dilakukan pada awal abad ke-20 untuk mengembalikan bentuk bangunan yang dapat dilihat saat ini. Berkat upaya konservasi tersebut, Candi Pawon berhasil diselamatkan dan menjadi salah satu bagian penting dari kawasan warisan budaya Borobudur.

Kini, meskipun ukurannya kecil, Pawon tetap menjadi tujuan penting bagi wisatawan, peneliti, maupun umat Buddha. Banyak pengunjung yang sengaja meluangkan waktu untuk memahami hubungan antara Pawon, Mendut, dan Borobudur sebagai satu kesatuan sejarah dan spiritual.

Keistimewaan Candi Pawon justru terletak pada perannya yang sering luput dari perhatian. Ia bukan bangunan terbesar, bukan pula yang paling terkenal, tetapi keberadaannya membantu menjelaskan bagaimana masyarakat Jawa Kuno membangun sebuah lanskap keagamaan yang terencana dan penuh simbolisme.

Sebagai mata rantai spiritual antara Mendut dan Borobudur, Candi Pawon merupakan bagian penting dari salah satu kompleks Buddha terbesar yang pernah dibangun di Asia Tenggara. Di balik ukurannya yang sederhana, tersimpan kisah tentang perjalanan menuju pencerahan, kecanggihan arsitektur Jawa Kuno, serta warisan budaya yang terus hidup hingga hari ini. Melalui Pawon, kita dapat melihat bahwa dalam sebuah peradaban besar, setiap bagian memiliki makna yang tidak tergantikan.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Heritage Nusantara

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Heritage Nusantara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Heritage Nusantara

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Heritage Nusantara

Pilihan Redaksi

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Heritage Nusantara

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Perspektif

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Kuliner

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Kuliner

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Kuliner

Baca Juga

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Kuliner

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Kuliner

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kuliner

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Kuliner

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Kuliner

Berita Lainnya

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Kuliner

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Kuliner

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Kuliner

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Kuliner

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Kuliner

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua