Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Arkeologi
»
Detail Berita


Mengungkap Sejarah Candi Sewu, Kompleks Buddha di Dataran Prambanan

Foto: Candi Sewu menyimpan kisah panjang mengenai perkembangan agama Buddha Mahayana, kekuasaan Dinasti Syailendra, serta perjalanan sejarah Jawa yang berlangsung lebih dari seribu tahun lalu.
Pasang Iklan
Oleh : Joko Yuwono

Klaten, Indonesianer.com -- Candi Sewu berlokasi di dalam satu kompleks dengan Candi Prambanan, tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan D.I. Yogyakarta. Berjarak hanya sekitar 800 meter di utara Candi Prambanan, lokasinya dapat diakses dari Jl. Raya Solo - Yogyakarta.

Ketika berbicara tentang warisan budaya di Dataran Prambanan, perhatian banyak orang biasanya langsung tertuju pada megahnya Candi Prambanan atau kemegahan Candi Borobudur yang berada tidak terlalu jauh dari kawasan tersebut. Namun, di sebelah utara kompleks Prambanan berdiri sebuah situs arkeologi yang tidak kalah penting dalam sejarah peradaban Jawa Kuno, yaitu Candi Sewu.

Meski namanya berarti seribu, kompleks ini sebenarnya tidak terdiri atas seribu bangunan. Nama Sewu berasal dari tradisi dan legenda masyarakat setempat yang kemudian melekat hingga sekarang. Dalam kenyataannya, kompleks ini terdiri atas satu candi utama yang dikelilingi ratusan candi pendamping, menjadikannya salah satu kompleks percandian Buddha terbesar yang pernah dibangun di Nusantara. Bahkan, Candi Sewu merupakan kompleks candi Buddha terbesar kedua di Indonesia setelah Borobudur.

Lokasinya berada sekitar 800 meter di sebelah utara kompleks Candi Prambanan, tepatnya di wilayah perbatasan antara Kabupaten Klaten dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kedekatan geografis antara Candi Sewu dan Prambanan sering menimbulkan pertanyaan menarik mengenai hubungan antara agama Buddha dan Hindu di Jawa pada masa lalu. Keberadaan kedua kompleks besar tersebut dalam satu kawasan justru menunjukkan bahwa kedua tradisi keagamaan pernah berkembang secara berdampingan di pusat Kerajaan Mataram Kuno.

Di balik kemegahan arsitekturnya, Candi Sewu menyimpan kisah panjang mengenai perkembangan agama Buddha Mahayana, kekuasaan Dinasti Syailendra, serta perjalanan sejarah Jawa yang berlangsung lebih dari seribu tahun lalu. Kompleks ini bukan sekadar peninggalan arkeologi, melainkan salah satu bukti penting kejayaan peradaban Nusantara pada abad ke-8 dan ke-9.

Dibangun pada Masa Kejayaan Buddha Mahayana

Informasi mengenai sejarah awal Candi Sewu berasal dari sejumlah prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut, terutama Prasasti Kelurak bertarikh 782 Masehi dan Prasasti Manjusrigrha bertarikh 792 Masehi. Berdasarkan prasasti-prasasti tersebut, para arkeolog meyakini bahwa nama asli kompleks ini bukanlah Sewu, melainkan **Manjusrigrha**, yang berarti “Rumah Manjusri”. Manjusri adalah seorang bodhisattwa yang melambangkan kebijaksanaan dalam tradisi Buddha Mahayana.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum Nasional Indonesia, Penjaga Memori Peradaban Nusantara

Museum

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Sasando Warisan Nada dari Timur Nusantara yang Menyuarakan Harmoni Alam

Heritage Nusantara

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Tari Serimpi, Warisan Kehalusan Budaya Jawa dari Lingkungan Keraton

Heritage Nusantara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Debus Banten, Warisan Ketangguhan dan Spirit Tradisi dari Tanah Jawara

Heritage Nusantara

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Tari Topeng Cirebon, Warisan Spiritualitas dan Seni dari Pesisir Jawa

Heritage Nusantara

Pilihan Redaksi

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Tari Gending Sriwijaya Warisan Keanggunan dari Bumi Sriwijaya

Heritage Nusantara

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Bahasa Daerah di Persimpangan Zaman, Antara Bertahan atau Perlahan Punah

Perspektif

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Laksa Betawi, Perpaduan Budaya dalam Semangkuk Kuliner Berkuah

Kuliner

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Mie Kocok Khas Bandung, Kehangatan Kuliner Berkuah dari Tanah Pasundan

Kuliner

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Se’i Sapi Nusa Tenggara Timur, Teknik Pengasapan Tradisional dan Cita Rasa Otentik

Kuliner

Baca Juga

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Jenang Kudus dan Tradisi Kudapan Manis dalam Budaya Jawa Tengah

Kuliner

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Binte Biluhuta, Sup Jagung Tradisional Gorontalo dengan Rasa Segar Khas Timur

Kuliner

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kaledo Palu, Sup Tulang Sapi yang Menjadi Kebanggaan Sulawesi Tengah

Kuliner

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Nasi Tutug Oncom Tasikmalaya dan Kreativitas Kuliner Masyarakat Sunda

Kuliner

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Rujak Cingur Surabaya: Perpaduan Rasa yang Menjadi Identitas Kota Pahlawan

Kuliner

Berita Lainnya

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Bubur Sumsum Jawa dan Kenangan Kuliner Tradisional yang Tak Lekang Waktu

Kuliner

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Pecel Madiun dan Budaya Sayur dalam Hidangan Khas Jawa Timur

Kuliner

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Nasi Kuning Manado: Simbol Syukur dalam Tradisi Kuliner Sulawesi

Kuliner

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Soto Lamongan dan Identitas Kuliner Jawa Timur yang Kaya Rasa

Kuliner

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Gohu Ikan, Sashimi Ala Ternate dengan Sentuhan Rempah Nusantara

Kuliner

Benteng Kolonial
Lihat Semua
Taman Nasional
Lihat Semua