Di antara beragam alat musik tradisional Indonesia, Panting merupakan salah satu instrumen yang memiliki karakter suara paling khas. Alat musik tradisional dari Kalimantan Selatan ini tidak hanya menjadi pengiring lagu-lagu daerah, tetapi juga menjadi simbol identitas budaya masyarakat Banjar yang telah bertahan selama beberapa generasi. Suara petikannya yang ringan, nyaring, dan ritmis mampu menghadirkan nuansa hangat yang seolah membawa pendengar menyusuri tepian sungai, pasar terapung, hingga kehidupan masyarakat yang akrab dengan budaya sungai.
Keunikan Panting tidak hanya terletak pada bentuknya yang menyerupai gambus berukuran kecil, tetapi juga pada perjalanan sejarahnya. Alat musik ini lahir dari proses panjang akulturasi budaya, kemudian berkembang menjadi identitas musik daerah yang memiliki ciri tersendiri. Kini, Panting masih dimainkan dalam berbagai pertunjukan seni, acara adat, hingga festival budaya yang memperkenalkan kekayaan tradisi Kalimantan Selatan kepada masyarakat luas.
Di tengah arus modernisasi, keberadaan Panting menjadi bukti bahwa warisan budaya mampu bertahan ketika terus diwariskan kepada generasi muda. Banyak sanggar seni, komunitas budaya, hingga sekolah mulai kembali mengenalkan alat musik ini sebagai bagian penting dari identitas daerah. Oleh karena itu, mengenal Panting bukan hanya mempelajari sebuah alat musik, tetapi juga memahami kisah masyarakat yang melahirkannya.
Jejak Sejarah Panting dan Perjalanannya Menjadi Ikon Musik Banjar
Nama Panting berasal dari bunyi khas yang dihasilkan ketika senarnya dipetik. Meski terdengar sederhana, alat musik ini memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan perkembangan budaya masyarakat Banjar sejak ratusan tahun lalu. Banyak ahli budaya berpendapat bahwa Panting berkembang dari pengaruh alat musik gambus yang dibawa para pedagang dan penyebar agama Islam ke Nusantara. Seiring waktu, masyarakat Banjar mengadaptasi bentuk maupun teknik permainannya sehingga lahirlah alat musik yang memiliki identitas lokal yang kuat.
Jika gambus Timur Tengah umumnya berukuran besar dengan bentuk badan membulat, Panting hadir dalam ukuran yang lebih kecil dan ramping. Perubahan tersebut bukan sekadar penyesuaian bentuk, melainkan juga menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat. Ukurannya yang ringkas membuat Panting mudah dibawa ketika berpindah dari satu kampung ke kampung lain, terutama di wilayah yang didominasi sungai sebagai jalur transportasi utama.
Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera
05 Jul 2026, 16:51 WIB
Fauna
05 Jul 2026, 12:32 WIB
Flora
29 Jun 2026, 15:38 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:37 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:36 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:32 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:31 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:29 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Geoheritage
26 Jun 2026, 11:34 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 9:10 WIB
Tradisi
26 Jun 2026, 8:42 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB