Dalam tradisi lama, bunyi bambu dipercaya mampu menghadirkan suasana gembira sekaligus mempererat hubungan sosial masyarakat. Pertunjukan calung sering dimainkan saat pesta panen, hajatan, atau perayaan kampung. Musik yang dihasilkan sederhana tetapi penuh semangat sehingga mudah dinikmati oleh berbagai kalangan.
Nama "calung" sendiri berasal dari alat musik bambu yang dimainkan dengan cara dipukul menggunakan pemukul khusus. Berbeda dengan angklung yang dibunyikan melalui gerakan menggoyangkan rangka bambu, calung menghasilkan nada ketika bilah atau tabung bambunya dipukul. Perbedaan teknik bermain inilah yang membuat karakter suara kedua alat musik tersebut cukup berbeda meskipun sama-sama menggunakan bahan utama bambu.
Dalam perkembangannya, calung mengalami banyak inovasi. Dahulu bentuknya lebih sederhana dan dimainkan secara berkelompok dalam format tradisional. Seiring waktu, para seniman mulai mengembangkan ukuran, jumlah nada, hingga sistem penyetelan agar dapat memainkan lagu-lagu yang lebih beragam.
Secara umum terdapat dua jenis calung yang dikenal masyarakat Sunda. Pertama adalah calung rantay, yaitu susunan tabung bambu yang dirangkai memanjang dan biasanya dimainkan sambil duduk. Bentuk ini dianggap sebagai model yang paling tua dan masih banyak ditemukan pada kelompok seni tradisional. Kedua adalah calung jinjing yang lebih modern. Sesuai namanya, alat musik ini dapat dibawa atau dijinjing ketika dimainkan sehingga memberikan keleluasaan bergerak kepada para pemain.
Popularitas calung jinjing meningkat pesat sejak pertengahan abad ke-20 karena lebih praktis untuk dipentaskan. Pertunjukan menjadi lebih dinamis dan atraktif karena para pemain dapat berjalan, menari, bahkan berinteraksi langsung dengan penonton. Inovasi tersebut membuat calung semakin diterima sebagai hiburan masyarakat luas.
Satu set calung biasanya terdiri atas beberapa instrumen dengan fungsi berbeda. Ada calung melodi yang memainkan lagu utama, calung pengiring yang membentuk harmoni, hingga bagian ritmis yang menjaga tempo permainan. Keseluruhannya menghasilkan perpaduan bunyi yang kaya meskipun hanya berasal dari bahan bambu.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:51 WIB