Namun tantangan utama dalam menjaga keberlanjutan se’i adalah proses produksinya yang membutuhkan waktu dan keterampilan khusus. Pengasapan tradisional tidak dapat dipercepat tanpa memengaruhi kualitas rasa.
Karena itu, banyak produsen lokal tetap mempertahankan metode lama sebagai bentuk penghormatan terhadap tradisi sekaligus menjaga identitas kuliner NTT.
Se’i sapi menunjukkan bagaimana masyarakat Nusa Tenggara Timur mengolah keterbatasan menjadi kekuatan kuliner. Dari teknik pengasapan sederhana lahir hidangan yang kini dikenal secara nasional.
Lebih dari sekadar daging asap, se’i membawa cerita tentang kehidupan masyarakat Timor, tentang hubungan dengan alam, dan tentang tradisi yang diwariskan melalui proses yang sabar dan penuh perhatian.
Dari dapur tradisional di Kupang hingga restoran modern di kota besar, se’i sapi terus hidup sebagai simbol kuliner NTT yang otentik. Aroma asapnya menjadi pengingat bahwa makanan terbaik sering lahir dari kesederhanaan, ketekunan, dan hubungan erat manusia dengan lingkungannya. (*)
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:28 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:22 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:12 WIB
Kuliner
24 Mei 2026, 19:46 WIB
Kuliner
24 Mei 2026, 19:42 WIB
Inspirasi
07 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
12 Apr 2026, 11:12 WIB