Di bentangan Kepulauan Maluku yang dikelilingi laut biru dan gugusan pulau-pulau eksotis, terdapat sebuah alat musik tradisional yang memiliki suara khas sekaligus menyimpan nilai budaya yang sangat dalam. Alat musik tersebut adalah Tahuri, sebuah terompet alami yang dibuat dari cangkang kerang laut berukuran besar. Bagi masyarakat Maluku, Tahuri bukan sekadar instrumen musik, melainkan simbol komunikasi, identitas budaya, hingga pengingat akan eratnya hubungan manusia dengan alam.
Suara Tahuri yang nyaring mampu terdengar hingga jarak yang cukup jauh. Pada masa ketika teknologi komunikasi belum berkembang, bunyi alat musik ini menjadi media penting untuk menyampaikan berbagai pesan kepada masyarakat. Kini, meski fungsinya telah bergeser, Tahuri tetap hidup sebagai bagian dari pertunjukan seni, upacara adat, dan daya tarik wisata budaya yang memperlihatkan kekayaan tradisi Maluku kepada dunia.
Keunikan Tahuri terletak pada kesederhanaannya. Instrumen ini tidak dibuat dari logam, bambu, ataupun kayu seperti kebanyakan alat musik tradisional Indonesia. Sebaliknya, masyarakat memanfaatkan kerang laut yang telah tersedia di alam. Dari benda yang tampak sederhana itu lahirlah suara khas yang begitu kuat dan mudah dikenali.
Keberadaan Tahuri juga menunjukkan bagaimana masyarakat pesisir memanfaatkan sumber daya alam secara bijaksana. Mereka tidak hanya melihat laut sebagai tempat mencari nafara, tetapi juga sebagai sumber inspirasi budaya. Karena itulah, Tahuri menjadi salah satu contoh nyata bahwa lingkungan alam dapat melahirkan tradisi yang bertahan selama berabad-abad.
Dari Alat Komunikasi Menjadi Ikon Seni Tradisional
Sejarah Tahuri tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat kepulauan di Maluku. Wilayah yang terdiri atas ratusan pulau membuat komunikasi antarkampung menjadi tantangan tersendiri. Pada masa lalu, suara Tahuri digunakan sebagai penanda berbagai peristiwa penting.
Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera
05 Jul 2026, 16:51 WIB
Fauna
05 Jul 2026, 12:32 WIB
Flora
29 Jun 2026, 15:38 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:46 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:45 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:43 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:41 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:39 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:37 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:36 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:32 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:31 WIB
Desa Wisata
26 Jun 2026, 16:29 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Geoheritage
26 Jun 2026, 11:34 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 9:10 WIB
Tradisi
26 Jun 2026, 8:42 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:26 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB