Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Maluku
»
Benteng Kolonial


Jejak Benteng Nassau di Maluku, Saksi Awal Ekspedisi Rempah Eropa di Nusantara

Foto: Dibangun di atas bekas fondasi benteng Portugis yang ditinggalkan akibat perlawanan warga lokal. Pembangunan dilanjutkan oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di bawah pimpinan Laksamana Pieter Willemsz. Verhoeven
Warta Konsumen Indonesia

Maluku Tengah, Indonesianer.com -- Benteng Nassau terletak di Pulau Neira (atau Banda Naira), Kepulauan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Sebagai benteng Belanda pertama di Kepulauan Banda (selesai dibangun pada 1609), lokasinya sangat strategis untuk mengontrol perdagangan pala pada masa penjajahan. Bangunan ini berdiri tepat di atas bekas fondasi benteng Portugis.

Di tengah gugusan Kepulauan Banda yang tenang dan memesona, berdiri sebuah benteng tua yang menyimpan kisah panjang tentang awal mula persaingan bangsa-bangsa Eropa di Nusantara. Benteng Nassau di Maluku mungkin tidak sepopuler Benteng Belgica yang menjulang megah di Pulau Neira, tetapi justru dari benteng inilah babak awal dominasi Belanda atas perdagangan pala mulai ditulis. Dinding-dinding batu yang kini tersisa menjadi saksi bisu bagaimana sebuah kepulauan kecil di timur Indonesia pernah menjadi pusat perhatian dunia karena rempah-rempah yang nilainya melebihi emas.

Benteng Nassau terletak di Pulau Banda Neira, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Posisinya berada tidak jauh dari pusat kota Banda Neira, sehingga mudah dijangkau oleh wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat sejarah Kepulauan Banda. Meski sebagian besar bangunannya telah mengalami kerusakan akibat usia, bencana alam, dan perubahan zaman, kawasan benteng masih memancarkan atmosfer sejarah yang begitu kuat. Berkunjung ke tempat ini seolah membawa pengunjung kembali ke awal abad ke-17 ketika kapal-kapal dagang dari berbagai negara bersandar di pelabuhan Banda untuk memperebutkan komoditas paling berharga saat itu, yaitu pala.

Benteng Nassau dibangun oleh Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada tahun 1609. Nama "Nassau" diambil dari Wangsa Nassau, keluarga bangsawan yang menjadi simbol kekuasaan Belanda. Sebelum benteng ini berdiri, bangsa Portugis telah lebih dahulu hadir di Kepulauan Banda. Namun, VOC datang dengan tujuan yang jauh lebih besar, yakni menguasai sepenuhnya perdagangan pala dan fuli yang hanya tumbuh secara alami di Kepulauan Banda.

Pembangunan Benteng Nassau menjadi langkah strategis VOC untuk memperkuat pengaruhnya di wilayah tersebut. Lokasinya dipilih dengan mempertimbangkan akses menuju pelabuhan sekaligus kemudahan dalam mengawasi aktivitas perdagangan. Dari benteng ini, VOC mengatur distribusi rempah-rempah, mengawasi lalu lintas kapal, sekaligus mempertahankan wilayah dari ancaman bangsa Eropa lainnya maupun perlawanan masyarakat Banda.

Pada awal abad ke-17, pala merupakan komoditas yang sangat bernilai di pasar Eropa. Selain digunakan sebagai bumbu masakan, pala dipercaya memiliki khasiat sebagai obat berbagai penyakit. Tingginya permintaan membuat harga pala melambung berkali-kali lipat dibanding harga di tempat asalnya. Situasi inilah yang mendorong berbagai kerajaan maritim Eropa berlomba-lomba menguasai Kepulauan Banda.

Benteng Nassau menjadi simbol awal ambisi VOC dalam membangun monopoli perdagangan rempah. Dari sini berbagai kebijakan ekonomi dijalankan, termasuk pengaturan harga dan pembatasan perdagangan dengan pedagang asing. VOC berusaha memastikan bahwa seluruh hasil pala Banda hanya dijual kepada mereka.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua