Di balik rimbunnya hutan tropis di ujung utara Pulau Sulawesi, terdapat makhluk kecil bermata besar yang telah lama menjadi simbol kekayaan satwa endemik Indonesia. Hewan itu adalah tarsius, primata mungil yang mampu melompat dengan lincah di antara pepohonan saat malam tiba. Kota Bitung di Sulawesi Utara menjadi salah satu tempat terbaik untuk mengenal kehidupan satwa unik ini, bahkan namanya sering melekat sebagai "Tarsius dari Bitung" karena populasi yang hidup di kawasan konservasi sekitar kota tersebut sangat terkenal di kalangan peneliti maupun wisatawan.
Keunikan tarsius tidak hanya terletak pada penampilannya yang menggemaskan. Primata kecil ini merupakan salah satu mamalia paling kuno yang masih bertahan hingga sekarang. Berbagai kemampuan biologisnya menunjukkan proses evolusi yang panjang dan berbeda dibandingkan primata lain. Mulai dari mata yang sangat besar, kemampuan melompat beberapa meter hanya dengan sekali tolakan, hingga kebiasaannya berburu serangga di malam hari, semuanya menjadikan tarsius sebagai spesies yang menarik untuk dipelajari.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Bitung, bertemu langsung dengan tarsius menjadi pengalaman yang sulit dilupakan. Meskipun ukuran tubuhnya hanya sekitar belasan sentimeter, pesonanya mampu mencuri perhatian siapa saja. Tidak sedikit wisatawan mancanegara yang memasukkan pengamatan tarsius sebagai agenda utama ketika menjelajahi Sulawesi Utara, berdampingan dengan wisata menyelam di Selat Lembeh maupun menikmati panorama Taman Nasional Tangkoko.
Primata Kecil dengan Kemampuan Luar Biasa
Tarsius yang hidup di kawasan Bitung termasuk kelompok primata endemik Sulawesi. Salah satu spesies yang paling dikenal adalah Tarsius spectrumgurskyae, yang sebelumnya lama dianggap sebagai bagian dari Tarsius spectrum sebelum akhirnya dipisahkan berdasarkan penelitian ilmiah. Perubahan klasifikasi tersebut menunjukkan bahwa keanekaragaman tarsius di Sulawesi ternyata jauh lebih tinggi daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Tubuh tarsius tergolong sangat kecil. Panjang badannya hanya sekitar 10 hingga 15 sentimeter dengan berat kurang dari 150 gram. Meski demikian, kaki belakangnya berkembang sangat panjang sehingga mampu menghasilkan lompatan hingga beberapa meter dari satu pohon ke pohon lainnya. Nama "tarsius" sendiri berasal dari tulang tarsal yang memanjang pada bagian kaki belakangnya.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB