Akar tersebut bukan sekadar penopang tanaman, melainkan organ penting yang berfungsi menyerap air dan unsur hara langsung dari udara maupun embun. Karena itulah, banyak kolektor membudidayakan Vanda tanpa media tanam atau hanya menggantungnya di keranjang kayu agar akar dapat berkembang secara alami.
Daya tarik utama Anggrek Vanda tentu terletak pada bunganya. Ukuran bunga relatif besar dengan kelopak dan mahkota yang tersusun simetris. Warna bunganya sangat beragam, mulai dari putih bersih, kuning, merah muda, ungu, biru keunguan, jingga, hingga kombinasi berbagai corak berbintik atau berpola kotak-kotak yang sangat khas. Pada beberapa spesies dan hibrida, bunga mampu bertahan segar selama beberapa minggu sehingga sangat diminati sebagai tanaman hias maupun bunga potong.
Indonesia memiliki sejumlah spesies Vanda yang tumbuh alami. Salah satu yang paling terkenal adalah *Vanda tricolor*, spesies asli Pulau Jawa yang memiliki bunga berwarna putih krem dengan bintik-bintik ungu kecokelatan dan aroma harum yang lembut. Spesies ini bahkan sering dijadikan indukan dalam program pemuliaan karena memiliki karakter bunga yang indah dan ketahanan yang baik.
Selain itu, terdapat pula *Vanda limbata* yang berasal dari Jawa dan Bali. Bunganya berwarna kuning kehijauan dengan bibir berwarna ungu mencolok. Spesies ini banyak diburu kolektor karena penampilannya yang unik serta termasuk salah satu anggrek endemik Indonesia yang bernilai konservasi tinggi.
Di wilayah Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, hingga Papua juga ditemukan berbagai spesies Vanda yang tumbuh secara alami di hutan primer maupun sekunder. Masing-masing memiliki karakteristik warna, ukuran bunga, serta habitat yang berbeda. Kekayaan inilah yang menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keanekaragaman genus Vanda di kawasan tropis.
Habitat alami Anggrek Vanda umumnya berada pada pohon-pohon besar sebagai tanaman epifit. Meskipun menempel pada batang pohon, tanaman ini bukanlah parasit karena tidak mengambil nutrisi dari inangnya. Pohon hanya berfungsi sebagai tempat melekat, sementara kebutuhan air dan hara diperoleh dari udara, hujan, serta sisa-sisa bahan organik yang menempel di sekitar akar.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB