Di tengah hamparan situs bersejarah Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, berdiri sebuah bangunan yang langsung menarik perhatian karena bentuknya yang sederhana namun sangat monumental. Candi Wringinlawang, atau yang sering disebut juga sebagai Gapura Wringinlawang, merupakan salah satu peninggalan paling ikonik dari Kerajaan Majapahit. Bangunan ini menjadi saksi bisu kemegahan ibu kota Majapahit yang dahulu dikenal sebagai salah satu pusat peradaban terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-14 hingga ke-15 Masehi.
Ciri paling mencolok dari Candi Wringinlawang adalah bentuknya yang berupa gerbang split gate atau candi bentar, yaitu dua bangunan kembar yang terbelah di tengah sebagai jalur masuk. Model arsitektur seperti ini menjadi salah satu warisan penting Majapahit yang kemudian banyak memengaruhi arsitektur tradisional Jawa hingga Bali. Walaupun terlihat sederhana, struktur ini menyimpan makna simbolis yang dalam tentang pembagian ruang antara dunia luar dan kawasan yang dianggap lebih sakral atau penting.
Nama “Wringinlawang” dalam bahasa Jawa berarti “pohon beringin di pintu”. Nama ini diduga merujuk pada kondisi lingkungan masa lalu yang mungkin ditandai oleh keberadaan pohon beringin di sekitar gerbang tersebut. Seperti banyak situs kuno lainnya, nama yang digunakan saat ini merupakan hasil tradisi lokal yang berkembang setelah masa kejayaan Majapahit berakhir.
Candi Wringinlawang berdiri di kawasan Trowulan yang diyakini sebagai bekas ibu kota Majapahit. Kawasan ini merupakan kompleks urban yang sangat luas pada masanya, terdiri dari istana, bangunan keagamaan, permukiman, saluran air, dan berbagai struktur pendukung lainnya. Keberadaan gerbang monumental ini menunjukkan bahwa tata kota Majapahit telah memiliki sistem zonasi yang teratur dan terencana dengan baik.
Gerbang Menuju Ibu Kota Majapahit yang Legendaris
Sebagai sebuah gerbang, Candi Wringinlawang memiliki fungsi penting dalam sistem ruang kota Majapahit. Bangunan ini diduga menjadi salah satu pintu masuk menuju kawasan penting di dalam ibu kota kerajaan. Dalam konteks tata ruang tradisional Jawa Kuno, gerbang seperti ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tetapi juga memiliki makna simbolis sebagai batas antara ruang profan dan ruang yang memiliki nilai sakral atau administratif tinggi.
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:13 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
16 Jun 2026, 22:00 WIB
Geopark
16 Jun 2026, 17:43 WIB
Geosite
15 Jun 2026, 20:28 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Peristiwa
15 Jun 2026, 6:08 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:59 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:58 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:51 WIB
Festival Budaya
14 Jun 2026, 12:50 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:48 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:47 WIB