Di balik deretan perbukitan kapur yang membentang di Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, terdapat sebuah kawasan geologi yang menyimpan kisah panjang tentang bumi jutaan tahun silam. Kawasan itu dikenal sebagai Geosite Rajamandala atau Karang Panganten, salah satu situs geologi penting di kawasan Geopark Nasional Kebumen–Karangsambung? Bukan. Rajamandala justru merupakan bagian dari kawasan karst Rajamandala di Kabupaten Bandung Barat yang diusulkan sebagai bagian dari pengembangan warisan geologi Jawa Barat. Nama Karang Panganten sendiri merujuk pada salah satu singkapan batuan paling terkenal di kawasan ini, yang menjadi ikon geosite berkat bentuk tebing batunya yang unik sekaligus nilai ilmiahnya yang tinggi.
Bagi wisatawan, Rajamandala menawarkan panorama tebing kapur yang menjulang, gua-gua alami, serta lanskap perbukitan yang memanjakan mata. Namun bagi para geolog, kawasan ini jauh lebih berharga. Batuan yang tersingkap di Karang Panganten menjadi bukti bahwa wilayah Bandung Barat pernah berada di dasar laut tropis pada puluhan juta tahun lalu. Lapisan batu kapur yang kini berdiri kokoh sebenarnya terbentuk dari endapan organisme laut purba yang perlahan mengeras sebelum akhirnya terangkat ke permukaan akibat proses tektonik.
Perpaduan antara keindahan alam dan nilai ilmiah inilah yang menjadikan Geosite Rajamandala sebagai salah satu lokasi geowisata yang menarik di Jawa Barat. Tidak hanya menawarkan pemandangan yang indah, kawasan ini juga mengajak pengunjung memahami bagaimana perjalanan panjang bumi membentuk bentang alam yang dapat dinikmati hingga saat ini.
Kisah Laut Tropis Purba yang Membentuk Rajamandala
Keistimewaan utama Geosite Rajamandala terletak pada keberadaan Formasi Rajamandala, yaitu satuan batuan karbonat yang telah lama menjadi objek penelitian geologi di Indonesia. Formasi ini diperkirakan terbentuk pada kala Oligosen hingga awal Miosen, sekitar 30 hingga 20 juta tahun yang lalu. Pada masa tersebut, wilayah yang kini menjadi Bandung Barat masih berupa laut dangkal yang hangat, sangat ideal bagi pertumbuhan organisme pembentuk terumbu karang.
Selama jutaan tahun, sisa-sisa karang, alga berkapur, moluska, foraminifera, dan berbagai organisme laut lainnya mengendap di dasar laut. Endapan karbonat itu terus bertambah tebal dan mengalami proses litifikasi hingga berubah menjadi batu gamping atau batu kapur. Dalam rentang waktu geologi yang sangat panjang, aktivitas tektonik akibat pergerakan lempeng kemudian mengangkat dasar laut tersebut menjadi daratan, membentuk perbukitan kapur yang kini dikenal sebagai kawasan Rajamandala.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:51 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 6:47 WIB
Istana Nusantara
19 Jun 2026, 6:15 WIB