Ketersediaan ikan air tawar dalam jumlah besar menjadi salah satu faktor lahirnya pempek. Sungai Musi dan anak-anak sungainya sejak dahulu kaya akan berbagai jenis ikan seperti belida, gabus, maupun tenggiri dari wilayah pesisir yang kemudian diperdagangkan ke Palembang. Masyarakat lokal memiliki kemampuan mengolah hasil tangkapan agar tidak cepat rusak, terutama mengingat kondisi iklim tropis yang membuat bahan pangan mudah mengalami pembusukan.
Dari kebutuhan tersebut lahir berbagai teknik pengawetan dan pengolahan ikan. Salah satunya adalah mencampur daging ikan dengan tepung sagu dan bumbu tertentu untuk menghasilkan makanan yang lebih tahan disimpan. Teknik ini tidak hanya praktis, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi ikan karena dapat diolah menjadi produk dengan cita rasa dan bentuk yang menarik.
Asal-usul nama pempek sendiri memiliki beberapa versi cerita. Salah satu kisah yang populer menyebutkan bahwa pempek berasal dari sebutan “apek” atau “empek”, yaitu panggilan bagi lelaki tua keturunan Tionghoa yang konon menjual makanan berbahan ikan di Palembang pada masa lalu. Seiring waktu, sebutan tersebut melekat pada makanan yang dijajakannya hingga berubah menjadi pempek.
Meski kisah tersebut sulit dibuktikan secara historis, cerita itu menggambarkan satu hal penting, yakni adanya interaksi budaya di Palembang. Sebagai kota perdagangan, Palembang sejak lama menjadi tempat pertemuan berbagai komunitas. Pengaruh lokal dan luar saling berinteraksi dalam kehidupan masyarakat, termasuk dalam dunia kuliner. Pempek dapat dipandang sebagai hasil kreativitas masyarakat yang tumbuh dalam lingkungan multikultural.
Bahan utama pempek tradisional adalah ikan yang digiling halus dan dicampur dengan tepung sagu. Jenis ikan yang digunakan memengaruhi cita rasa akhir. Dahulu, ikan belida dianggap sebagai bahan terbaik karena menghasilkan tekstur lembut dan rasa gurih alami. Namun karena ketersediaannya semakin terbatas, masyarakat kemudian banyak menggunakan ikan tenggiri atau gabus yang lebih mudah diperoleh.
Pembuatan pempek memerlukan keterampilan tersendiri. Daging ikan dicampur dengan air, garam, dan tepung sagu hingga membentuk adonan yang lentur namun tidak terlalu keras. Adonan kemudian dibentuk sesuai jenis pempek yang diinginkan sebelum direbus hingga matang. Pada tahap tertentu, sebagian pempek digoreng agar memiliki lapisan luar yang renyah.
Dari Rafflesia hingga Harimau, Pesona Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang Memikat
22 Apr 2026, 17:45 WIB
Taman Nasional Kerinci Seblat, Bentang Hutan Terluas yang Menyimpan Kehidupan Liar
22 Apr 2026, 16:35 WIB
Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Edukasi
18 Jan 2026, 0:44 WIB
Ekonomi
17 Jan 2026, 23:33 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:48 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB