Palembang dikenal sebagai salah satu kota tertua di Indonesia yang memiliki sejarah panjang sebagai pusat perdagangan dan peradaban. Kehidupan masyarakatnya sejak dahulu sangat bergantung pada sungai, terutama Sungai Musi yang membelah kota dan menjadi urat nadi aktivitas ekonomi, transportasi, hingga pangan. Dari hubungan erat antara manusia dan sungai inilah lahir berbagai kuliner khas, salah satunya pindang patin.
Pindang patin merupakan masakan berbahan dasar ikan patin yang dimasak dalam kuah berbumbu dengan cita rasa asam, pedas, dan gurih. Hidangan ini sekilas tampak sederhana, tetapi menyimpan lapisan sejarah dan budaya yang cukup dalam. Bagi masyarakat Palembang, pindang bukan sekadar sup ikan, melainkan bagian dari identitas yang melekat dalam kehidupan sehari-hari.
Tradisi memasak ikan sebenarnya telah berkembang lama di wilayah Sumatra Selatan. Sungai Musi dan anak-anak sungainya menyediakan berbagai jenis ikan air tawar yang melimpah. Ikan patin menjadi salah satu hasil tangkapan yang paling disukai karena dagingnya tebal, lembut, dan memiliki kandungan lemak alami yang membuat rasanya gurih.
Pemanfaatan ikan patin tidak lepas dari kecerdasan masyarakat dalam mengolah sumber daya lokal. Pada masa ketika pendingin makanan belum tersedia, ikan harus segera dimasak agar tidak cepat rusak. Teknik memasak dengan kuah berbumbu kemudian menjadi pilihan yang efektif sekaligus menghasilkan rasa yang lebih kaya.
Istilah “pindang” sendiri memiliki makna yang menarik dalam tradisi kuliner Nusantara. Di beberapa daerah, pindang merujuk pada teknik pengawetan atau pengolahan ikan dengan garam dan bumbu tertentu. Namun di Palembang, pindang berkembang menjadi hidangan berkuah yang menonjolkan keseimbangan rasa segar dan rempah.
Perkembangan perdagangan di Palembang sejak masa kerajaan dan kolonial turut memengaruhi karakter pindang. Kota ini sejak lama menjadi titik pertemuan berbagai budaya, mulai dari Melayu, Tiongkok, Arab, hingga pengaruh India. Interaksi tersebut memperkaya penggunaan bahan dan rempah dalam masakan lokal.
Dr Agus Ujianto Kembali Dipercaya Nahkodai Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang
07 Mei 2026, 17:16 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:56 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:22 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 18:07 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 17:45 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 16:35 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Eksplorasi
22 Apr 2026, 10:20 WIB
Kuliner
12 Apr 2026, 11:12 WIB
Edukasi
18 Jan 2026, 0:44 WIB
Ekonomi
17 Jan 2026, 23:33 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:48 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB