Di bagian selatan Pulau Jawa yang membentang dari Yogyakarta, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur, terdapat sebuah lanskap alam yang unik dan sangat khas, berupa gugusan perbukitan batu kapur berbentuk kerucut yang tersebar sejauh mata memandang. Kawasan ini dikenal sebagai Gunung Sewu, yang secara harfiah berarti seribu gunung, meskipun dalam kenyataannya jumlah bukit karst di wilayah ini mencapai ribuan dan membentuk salah satu lanskap karst tropis terbesar di dunia.
Gunung Sewu telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark karena nilai geologinya yang luar biasa, sekaligus kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya yang hidup di dalamnya. Kawasan ini mencakup wilayah yang sangat luas, meliputi sebagian Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta, Wonogiri di Jawa Tengah, serta Pacitan di Jawa Timur. Ketiga wilayah ini bersama-sama membentuk satu kesatuan bentang alam karst yang saling terhubung secara geologis.
Keunikan utama Gunung Sewu terletak pada bentuk topografinya yang didominasi oleh bukit-bukit karst berbentuk kerucut. Lanskap ini terbentuk melalui proses pelarutan batu gamping selama jutaan tahun, yang menghasilkan pola permukaan tanah yang khas, dengan lembah-lembah kering, dolina, serta sistem gua bawah tanah yang kompleks. Di balik permukaan yang tampak gersang pada musim kemarau, tersimpan sistem hidrologi bawah tanah yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Gunung Sewu bukan hanya kawasan geologi, tetapi juga ruang hidup yang telah dihuni manusia sejak ribuan tahun lalu. Gua-gua di kawasan ini menjadi saksi jejak kehidupan manusia prasejarah, sementara lembah dan perbukitan di atasnya menjadi tempat berkembangnya budaya agraris dan tradisi masyarakat Jawa bagian selatan.
Lanskap Karst Raksasa dan Sistem Bawah Tanah yang Kompleks
Gunung Sewu dikenal sebagai salah satu contoh terbaik bentang alam karst tropis di dunia. Proses pembentukan kawasan ini dimulai dari endapan batu gamping yang terbentuk di dasar laut jutaan tahun lalu. Seiring waktu, pergerakan tektonik mengangkat lapisan batuan tersebut ke permukaan, lalu proses pelarutan oleh air hujan membentuk struktur khas karst yang kita lihat saat ini.
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:12 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:11 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 7:10 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
17 Jun 2026, 4:55 WIB
Festival Budaya
16 Jun 2026, 22:00 WIB
Geopark
16 Jun 2026, 17:43 WIB
Geosite
15 Jun 2026, 20:28 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Festival Budaya
15 Jun 2026, 10:29 WIB
Peristiwa
15 Jun 2026, 6:08 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 13:00 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:59 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:58 WIB
Desa Wisata
14 Jun 2026, 12:51 WIB
Festival Budaya
14 Jun 2026, 12:50 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:48 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:47 WIB
Desa Wisata
12 Jun 2026, 10:42 WIB