Ketika mendengar kata kanguru, kebanyakan orang langsung membayangkan hamparan padang rumput Australia dengan seekor hewan berkaki belakang kuat yang melompat membawa anak di dalam kantongnya. Namun, jauh di timur Indonesia, tepatnya di hutan-hutan lebat Papua, hidup kerabat dekat kanguru yang memiliki gaya hidup sangat berbeda. Satwa tersebut adalah kanguru pohon Papua, mamalia endemik yang lebih banyak menghabiskan hidupnya di atas pepohonan dibandingkan melompat di tanah.
Keberadaan kanguru pohon menjadi salah satu bukti bahwa Papua merupakan wilayah dengan kekayaan hayati luar biasa. Pulau terbesar kedua di dunia ini menyimpan berbagai spesies unik yang tidak ditemukan di tempat lain, dan kanguru pohon termasuk salah satu ikon paling menarik. Hewan ini bukan hanya menjadi kebanggaan masyarakat Papua, tetapi juga memiliki nilai penting bagi keseimbangan ekosistem hutan hujan tropis yang masih terjaga.
Berbeda dengan kanguru daratan yang terkenal karena lompatan panjangnya, kanguru pohon justru berevolusi menjadi pemanjat ulung. Bentuk tubuhnya mengalami berbagai penyesuaian selama jutaan tahun agar mampu bergerak lincah di antara cabang-cabang pohon yang tinggi. Perubahan tersebut membuatnya terlihat begitu berbeda dibandingkan saudara-saudaranya yang hidup di padang rumput.
Indonesia menjadi rumah bagi beberapa spesies kanguru pohon yang sebagian besar tersebar di wilayah Papua, terutama pada kawasan pegunungan dan hutan primer. Beberapa di antaranya bahkan memiliki wilayah sebaran yang sangat terbatas sehingga keberadaannya semakin rentan terhadap perubahan lingkungan.
Sekilas, penampilan kanguru pohon mengingatkan pada perpaduan antara kanguru dan beruang kecil. Tubuhnya dipenuhi bulu tebal berwarna cokelat, hitam, atau kemerahan, tergantung spesiesnya. Wajahnya cenderung membulat dengan mata besar yang memberikan kesan lembut, sementara telinganya relatif kecil dan ekornya panjang serta kuat sebagai alat penyeimbang ketika berpindah dari satu cabang ke cabang lainnya.
Ukuran tubuh kanguru pohon juga lebih kecil dibandingkan kanguru merah Australia. Beratnya umumnya berkisar antara 5 hingga 15 kilogram, meskipun beberapa spesies dapat memiliki ukuran sedikit lebih besar. Kaki belakangnya tetap kuat, tetapi tidak dirancang untuk melakukan lompatan jauh di permukaan tanah. Sebaliknya, telapak kaki depan dan belakang dilengkapi cakar yang tajam sehingga mampu mencengkeram batang pohon dengan sangat baik.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB