Di tengah lebatnya hutan hujan tropis Pulau Borneo, terdapat salah satu keajaiban alam yang membuat banyak peneliti, fotografer, hingga wisatawan rela menembus jalur hutan yang berat. Bunga itu adalah Rafflesia keithii, salah satu spesies rafflesia terbesar di dunia yang terkenal karena ukuran bunganya yang luar biasa besar sekaligus kemunculannya yang sangat langka. Meski sering dijuluki sebagai "bunga bangkai" karena aroma khas yang dikeluarkannya saat mekar, Rafflesia keithii justru menjadi simbol penting kekayaan hayati Kalimantan dan Sabah.
Keunikan bunga ini tidak hanya terletak pada ukurannya. Rafflesia keithii memiliki siklus hidup yang sangat tidak biasa. Ia tidak memiliki daun, batang, maupun akar sebagaimana tumbuhan pada umumnya. Seluruh kehidupannya bergantung pada tanaman inang dari genus Tetrastigma, sejenis tumbuhan merambat yang hidup di hutan tropis. Hubungan parasit tersebut membuat keberadaan Rafflesia keithii sangat bergantung pada kondisi ekosistem hutan yang masih alami.
Nama spesies ini diberikan sebagai penghormatan kepada Henry George Keith, seorang pejabat kolonial Inggris yang pernah bertugas di wilayah Sabah pada pertengahan abad ke-20. Meski telah lama dikenal dalam dunia botani, Rafflesia keithii hingga kini tetap menjadi objek penelitian karena masih banyak aspek biologinya yang belum sepenuhnya dipahami.
Pulau Borneo memang dikenal sebagai pusat keanekaragaman spesies rafflesia. Selain Rafflesia arnoldii yang lebih populer di Sumatra, Borneo menjadi rumah bagi sejumlah spesies lain seperti Rafflesia pricei, Rafflesia tengku-adlinii, Rafflesia cantleyi, dan tentu saja Rafflesia keithii. Masing-masing memiliki karakteristik yang berbeda, namun semuanya sama-sama bergantung pada kelestarian hutan hujan tropis.
Salah satu daya tarik terbesar Rafflesia keithii adalah ukuran bunganya yang dapat mencapai diameter sekitar 80 hingga lebih dari 100 sentimeter ketika mekar sempurna. Kelopak bunganya tebal dengan warna merah kecokelatan yang dipenuhi bintik-bintik putih krem. Bentuk tersebut membuatnya tampak eksotis sekaligus unik dibandingkan bunga-bunga lain di dunia.
Bunga raksasa ini juga dikenal memiliki masa mekar yang sangat singkat. Setelah bertahun-tahun berkembang sebagai kuncup di dalam jaringan tanaman inang, bunganya hanya bertahan sekitar lima hingga tujuh hari sebelum akhirnya layu dan membusuk. Singkatnya masa mekar inilah yang membuat banyak wisatawan harus mengandalkan informasi dari pemandu lokal apabila ingin melihatnya secara langsung.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB