Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Jawa Timur
»
Candi


Candi Tegowangi, Kisah Sudamala yang Terpahat dalam Batu

Foto: Candi ini merupakan salah satu contoh menarik bagaimana seni pahat pada masa Majapahit tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai media narasi yang menyampaikan ajaran moral dan keagamaan.
Warta Konsumen Indonesia

Kediri, Indonesianer.com — Candi Tegowangi terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Candi peninggalan Kerajaan Majapahit ini berjarak sekitar 24 kilometer ke arah timur laut dari pusat Kota Kediri, atau hanya sekitar 4 kilometer dari kawasan Kampung Inggris Pare.

Di Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berdiri sebuah candi yang tidak hanya menjadi peninggalan arkeologi penting dari masa Majapahit, tetapi juga menyimpan salah satu kisah paling terkenal dalam tradisi sastra Jawa Kuno. Candi Tegowangi, yang terletak di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, dikenal luas karena reliefnya yang menggambarkan cerita Sudamala, sebuah kisah spiritual yang sarat makna tentang penyucian diri, pengampunan, dan pelepasan dari kutukan.

Candi ini merupakan salah satu contoh menarik bagaimana seni pahat pada masa Majapahit tidak hanya berfungsi sebagai dekorasi, tetapi juga sebagai media narasi yang menyampaikan ajaran moral dan keagamaan. Melalui dinding-dinding batu yang terpahat halus, kisah Sudamala dihidupkan kembali dan menjadi bagian dari ruang sakral yang dapat “dibaca” oleh masyarakat pada masa itu.

Candi Tegowangi diperkirakan dibangun pada abad ke-14 Masehi, pada masa ketika Majapahit berada dalam periode kejayaan awal. Bangunan ini memiliki kaitan erat dengan tradisi pendharmaan, yaitu penghormatan terhadap tokoh penting yang telah wafat melalui pembangunan bangunan suci. Meskipun identitas tokoh yang didharmakan masih menjadi bahan kajian, candi ini jelas memiliki fungsi ritual yang sangat penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Jawa Timur pada masa itu.

Lokasinya di wilayah Kediri menunjukkan bahwa kawasan ini tetap memiliki peran penting dalam jaringan budaya Majapahit, meskipun pusat pemerintahan berada di Trowulan. Kediri pada masa sebelumnya juga merupakan pusat kerajaan besar seperti Kadiri, sehingga warisan budaya dan religius di wilayah ini sangat kaya dan berlapis.

Relief Sudamala dan Makna Penyucian Jiwa

Daya tarik utama Candi Tegowangi terletak pada relief Sudamala yang terpahat di dindingnya. Kisah Sudamala merupakan bagian dari tradisi sastra Jawa Kuno yang menceritakan perjalanan spiritual tokoh Sadewa, salah satu Pandawa, dalam membebaskan Dewi Durga dari kutukan menjadi raksasa menakutkan.

Dalam cerita tersebut, Sadewa menjalani proses spiritual yang penuh ujian untuk menghilangkan penderitaan dan kutukan yang menimpa Dewi Durga. Melalui kekuatan doa, keteguhan hati, dan bimbingan ilahi, kutukan tersebut akhirnya terangkat, dan Dewi Durga kembali ke wujud sucinya sebagai Dewi Uma.

Relief di Candi Tegowangi menggambarkan bagian-bagian penting dari kisah ini dengan detail yang sangat halus. Adegan-adegan yang terpahat tidak hanya menampilkan tokoh utama, tetapi juga menggambarkan ekspresi emosional, interaksi simbolis, dan suasana spiritual yang mendalam. Hal ini menunjukkan tingkat keterampilan seniman Majapahit dalam menggabungkan seni visual dengan narasi sastra.

Kisah Sudamala sendiri memiliki makna filosofis yang kuat dalam tradisi Jawa Kuno. Cerita ini menggambarkan konsep penyucian diri dari dosa, pelepasan dari penderitaan, dan perjalanan menuju kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Karena itu, relief ini tidak hanya berfungsi sebagai ilustrasi cerita, tetapi juga sebagai media pengajaran nilai-nilai spiritual kepada masyarakat.

Keberadaan kisah ini di sebuah candi menunjukkan bahwa bangunan suci pada masa Majapahit memiliki fungsi yang lebih luas daripada sekadar tempat ibadah. Candi menjadi ruang pendidikan visual yang menyampaikan ajaran agama dan etika melalui bahasa gambar yang dapat dipahami oleh masyarakat dari berbagai lapisan.

Arsitektur Bata Merah dan Jejak Majapahit di Kediri

Secara arsitektur, Candi Tegowangi merupakan contoh khas bangunan Majapahit yang menggunakan bata merah sebagai material utama. Meskipun banyak bagian bangunan yang kini telah runtuh, struktur dasarnya masih memperlihatkan bentuk yang cukup jelas sebagai candi dengan denah persegi dan orientasi tertentu yang mengikuti prinsip kosmologi Hindu-Buddha.

Bangunan ini memiliki kaki candi yang relatif kokoh dengan bagian tubuh yang dahulu dihiasi relief naratif. Atapnya sudah tidak utuh, namun dari sisa struktur yang ada, dapat diperkirakan bahwa candi ini memiliki bentuk bertingkat yang umum pada arsitektur Jawa Timur abad ke-14.

Teknik penyusunan bata pada Candi Tegowangi menunjukkan keahlian tinggi para pembuatnya. Bata-bata disusun dengan presisi yang baik dan menggunakan teknik pengikatan alami yang membuat bangunan mampu bertahan selama berabad-abad. Hal ini menjadi salah satu ciri khas arsitektur Majapahit yang terkenal tahan lama meskipun menggunakan material yang relatif sederhana.

Keunikan lain dari Candi Tegowangi adalah fokusnya pada narasi relief dibandingkan dekorasi struktural. Tidak seperti beberapa candi lain yang lebih menonjolkan ornamen geometris atau simbolik, candi ini lebih mengutamakan penyampaian cerita. Hal ini menjadikannya salah satu sumber penting dalam memahami tradisi sastra visual Jawa Kuno.

Lingkungan sekitar candi yang berada di kawasan pedesaan Kediri juga memberikan suasana yang tenang dan reflektif. Kondisi ini memungkinkan pengunjung untuk lebih mudah membayangkan bagaimana situs ini berfungsi sebagai ruang sakral pada masa lalu.

Saat ini, Candi Tegowangi menjadi salah satu situs penting dalam kajian sejarah seni dan budaya Majapahit. Relief Sudamala yang terdapat di dalamnya sering menjadi bahan penelitian untuk memahami hubungan antara sastra, seni, dan agama dalam masyarakat Jawa Timur kuno.

Candi Tegowangi pada akhirnya bukan hanya sebuah bangunan batu yang tersisa dari masa lalu, tetapi juga sebuah “teks visual” yang mengabadikan nilai-nilai spiritual dan filosofi kehidupan masyarakat Majapahit. Melalui kisah Sudamala yang terpahat di dindingnya, candi ini terus menyampaikan pesan tentang penyucian diri, pengampunan, dan perjalanan menuju kesadaran yang lebih tinggi, bahkan setelah berabad-abad berlalu.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua