Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Jawa Timur
»
Candi


Situs Candi Penataran, Pusat Keagamaan Terbesar Era Kerajaan Majapahit

Foto: Kompleks candi Penataran tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur kuno, tetapi juga menyimpan berbagai informasi mengenai kehidupan religius, seni pahat, dan pandangan dunia masyarakat Jawa pada masa kerajaan Hindu-Buddha
Warta Konsumen Indonesia

Blitar, Indonesianer.com — Candi Penataran atau nama aslinya adalah Candi Palah adalah sebuah gugusan candi bersifat keagamaan Hindu Siwaitis, yang terletak di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur.

Di lereng barat daya Gunung Kelud, sekitar 12 kilometer dari pusat Kota Blitar, berdiri sebuah kompleks percandian yang menjadi salah satu peninggalan terpenting dari masa kejayaan kerajaan-kerajaan Hindu di Jawa Timur. Kompleks tersebut adalah Candi Penataran, sebuah situs arkeologi yang selama berabad-abad berperan sebagai pusat kegiatan keagamaan dan ritual kerajaan. Dengan luas kawasan, jumlah bangunan, serta rentang sejarah yang panjang, Candi Penataran dikenal sebagai kompleks candi Hindu terbesar yang masih tersisa di Jawa Timur.

Berbeda dengan banyak candi di Jawa Tengah yang umumnya dibangun dalam periode waktu yang relatif singkat, Candi Penataran berkembang secara bertahap selama beberapa abad. Berbagai bangunan yang ada di dalam kompleks menunjukkan bahwa pembangunan dan pengembangannya berlangsung sejak masa Kerajaan Kadiri hingga mencapai puncaknya pada era Majapahit. Karena itu, Penataran tidak hanya menjadi situs keagamaan, tetapi juga menjadi saksi perubahan politik, budaya, dan seni arsitektur Jawa Timur dari abad ke-12 hingga abad ke-15.

Nama Penataran sudah lama dikenal dalam berbagai sumber sejarah. Dalam beberapa prasasti dan naskah kuno, kompleks ini disebut sebagai tempat suci yang memiliki kedudukan penting bagi kerajaan. Pada masa Majapahit, Penataran bahkan menjadi salah satu pusat pemujaan negara yang mendapat perhatian langsung dari para penguasa. Keberadaannya yang dekat dengan Gunung Kelud juga memiliki makna tersendiri karena gunung tersebut sejak lama dianggap sebagai salah satu kekuatan alam yang penting dalam kosmologi masyarakat Jawa kuno.

Saat ini, Candi Penataran menjadi salah satu situs arkeologi paling berharga di Indonesia. Kompleks ini tidak hanya menawarkan keindahan arsitektur kuno, tetapi juga menyimpan berbagai informasi mengenai kehidupan religius, seni pahat, dan pandangan dunia masyarakat Jawa pada masa kerajaan Hindu-Buddha.

Dari Kerajaan Kadiri hingga Masa Kejayaan Majapahit

Sejarah Candi Penataran dapat ditelusuri melalui sejumlah prasasti yang ditemukan di kawasan tersebut. Salah satu sumber penting adalah Prasasti Palah bertarikh 1197 Masehi yang berasal dari masa pemerintahan Raja Srengga dari Kerajaan Kadiri. Dalam prasasti itu disebutkan adanya bangunan suci bernama Palah yang diyakini merujuk pada kompleks Penataran saat ini. Karena itu, para ahli berpendapat bahwa sejarah Penataran setidaknya telah dimulai sejak akhir abad ke-12.

Meski demikian, bentuk kompleks yang terlihat sekarang sebagian besar berasal dari masa Kerajaan Majapahit. Berbagai bangunan tambahan terus dibangun dan diperluas selama beberapa generasi penguasa. Proses pembangunan yang panjang ini menjadikan Penataran sebagai salah satu kompleks candi dengan perkembangan arsitektur paling lengkap di Jawa Timur.

Pada masa Majapahit, Penataran memiliki kedudukan yang sangat penting. Kitab Negarakertagama, yang ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365, mencatat bahwa Hayam Wuruk beberapa kali mengunjungi tempat suci ini dalam perjalanan kerajaan. Catatan tersebut menunjukkan bahwa Penataran bukan sekadar tempat ibadah lokal, melainkan salah satu pusat keagamaan utama yang terkait langsung dengan kekuasaan negara.

Fungsi religius Penataran berkaitan erat dengan pemujaan terhadap Siwa. Namun sebagaimana banyak situs keagamaan Jawa Timur pada masa itu, unsur-unsur Hindu dan Buddha sering kali hadir secara berdampingan. Perpaduan tersebut mencerminkan karakter keagamaan masyarakat Majapahit yang relatif kompleks dan berkembang melalui proses panjang interaksi budaya.

Lokasi Penataran yang berada di dekat Gunung Kelud juga memiliki arti penting. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa kuno, gunung sering dianggap sebagai tempat yang sakral dan memiliki hubungan dengan dunia para dewa. Beberapa ahli berpendapat bahwa keberadaan kompleks ini juga berkaitan dengan upaya ritual kerajaan untuk menjaga keseimbangan alam dan memohon perlindungan dari aktivitas vulkanik Gunung Kelud yang dikenal sering meletus sejak masa lampau.

Selama berabad-abad, Penataran berkembang menjadi kompleks suci yang luas dengan berbagai bangunan yang memiliki fungsi berbeda. Hal ini menjadikannya salah satu contoh terbaik mengenai bagaimana pusat keagamaan kerajaan beroperasi pada masa Majapahit.

Keindahan Relief dan Kemegahan Arsitektur Jawa Timur

Salah satu hal yang membuat Candi Penataran begitu istimewa adalah tata ruang kompleksnya yang luas dan berlapis. Berbeda dengan candi-candi besar di Jawa Tengah yang umumnya terpusat pada satu bangunan utama, Penataran terdiri atas serangkaian halaman yang tersusun dari depan ke belakang mengikuti konsep kesucian bertingkat.

Pengunjung yang memasuki kompleks akan menemukan berbagai struktur penting seperti pendopo teras, candi angka tahun, balai-balai batu, serta bangunan utama yang berada di bagian paling belakang. Susunan ini mencerminkan perjalanan simbolis dari dunia yang bersifat profan menuju ruang yang dianggap paling suci.

Bangunan utama Penataran memiliki bentuk khas arsitektur Jawa Timur yang berbeda dari gaya Jawa Tengah. Struktur bangunannya lebih ramping dan bertingkat, dengan penggunaan relief yang sangat kaya. Dinding-dinding candi dihiasi pahatan yang menggambarkan berbagai kisah dari tradisi Hindu, termasuk cerita yang berasal dari epos Mahabharata dan Ramayana.

Salah satu relief yang paling terkenal di Penataran adalah kisah Ramayana. Relief tersebut dipahat dengan gaya khas Majapahit yang berbeda dari penggambaran Ramayana di Candi Prambanan. Selain berfungsi sebagai dekorasi, relief-relief tersebut juga menjadi media penyampaian nilai moral, keagamaan, dan pandangan hidup masyarakat pada zamannya.

Keindahan seni pahat Penataran memperlihatkan tingkat keterampilan yang sangat tinggi. Para pemahat tidak hanya menggambarkan tokoh-tokoh cerita, tetapi juga menampilkan berbagai detail kehidupan sehari-hari, flora, fauna, serta unsur-unsur alam yang memberikan gambaran mengenai lingkungan masyarakat Jawa Timur pada masa Majapahit.

Selain nilai artistik, Penataran juga penting bagi dunia arkeologi karena memperlihatkan perkembangan arsitektur candi selama beberapa abad. Berbagai bangunan dalam kompleks ini menunjukkan perubahan gaya konstruksi dari masa Kadiri hingga Majapahit, sehingga menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi para peneliti sejarah dan arsitektur.

Setelah runtuhnya Majapahit pada akhir abad ke-15 dan awal abad ke-16, aktivitas keagamaan di Penataran secara perlahan berkurang. Perubahan politik, sosial, dan perkembangan agama baru di Jawa menyebabkan banyak pusat keagamaan Hindu ditinggalkan. Selama berabad-abad berikutnya, sebagian bangunan mengalami kerusakan akibat faktor alam dan usia.

Minat terhadap situs ini kembali muncul pada masa kolonial ketika para peneliti Belanda mulai melakukan pendokumentasian dan kajian arkeologi. Upaya konservasi kemudian berlanjut setelah Indonesia merdeka. Berbagai pemugaran dilakukan untuk menjaga struktur bangunan dan melindungi relief-relief yang masih tersisa.

Kini, Candi Penataran menjadi salah satu destinasi wisata sejarah dan budaya terpenting di Jawa Timur. Kompleks ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi lokasi penelitian bagi arkeolog, sejarawan, dan pemerhati budaya yang ingin memahami lebih dalam tentang peradaban Majapahit.

Sebagai pusat keagamaan terbesar Kerajaan Majapahit, Candi Penataran merupakan simbol kejayaan salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Kompleks ini memperlihatkan bagaimana agama, seni, arsitektur, dan kekuasaan berpadu dalam sebuah karya monumental yang mampu bertahan selama berabad-abad. Di antara batu-batu kuno yang masih berdiri hingga kini, tersimpan kisah tentang kebesaran Majapahit dan warisan budaya yang terus menjadi bagian penting dari identitas sejarah Indonesia.

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua