Dalam prasasti itu disebutkan bahwa para guru Buddha berhasil membujuk seorang penguasa dari Wangsa Sanjaya untuk membangun sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara serta mendirikan sebuah vihara bagi para pendeta Buddha. Bangunan suci yang dimaksud oleh para ahli diidentifikasi sebagai Candi Kalasan. Karena itu, tahun 778 Masehi secara umum diterima sebagai tahun pembangunan candi ini.
Prasasti tersebut juga memberikan gambaran mengenai hubungan antara Wangsa Sanjaya yang berorientasi Hindu dan Dinasti Syailendra yang dikenal sebagai pendukung Buddha Mahayana. Pada masa itu, kedua kekuatan politik tersebut tampaknya hidup berdampingan dan saling berinteraksi dalam kehidupan kerajaan Mataram Kuno.
Keberadaan Candi Kalasan menjadi bukti penting bahwa agama Buddha telah berkembang kuat di Jawa Tengah pada akhir abad ke-8. Bahkan, candi ini dibangun sebelum sejumlah kompleks Buddha besar lainnya seperti Candi Sewu mencapai bentuk akhirnya. Oleh karena itu, Kalasan sering dianggap sebagai salah satu tonggak awal kejayaan arsitektur Buddha di Jawa.
Para ahli meyakini bahwa bangunan ini didedikasikan untuk Tara, sosok penting dalam ajaran Buddha Mahayana yang dipandang sebagai bodhisattwa perempuan pelindung umat manusia. Penghormatan terhadap Tara menunjukkan kuatnya pengaruh tradisi Buddha Mahayana yang berkembang di lingkungan Dinasti Syailendra.
Peran Dinasti Syailendra dalam pembangunan Candi Kalasan sangat penting. Wangsa ini kemudian dikenal sebagai penguasa yang mendukung pembangunan berbagai monumen Buddha besar di Jawa Tengah, termasuk Candi Sewu dan Borobudur. Karena itu, Kalasan dapat dipandang sebagai salah satu karya awal yang menandai kebangkitan arsitektur monumental pada masa Syailendra.
Lokasinya yang berada di kawasan Prambanan juga menunjukkan bahwa wilayah tersebut telah menjadi pusat kegiatan politik, budaya, dan keagamaan yang sangat penting sejak abad ke-8. Dalam radius yang tidak terlalu jauh dari Kalasan berdiri berbagai candi besar yang memperlihatkan perkembangan pesat peradaban Jawa Kuno pada masa itu.
Museum
29 Mei 2026, 15:43 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:32 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:22 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:15 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:08 WIB
Heritage Nusantara
29 Mei 2026, 15:00 WIB
Perspektif
28 Mei 2026, 17:16 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:57 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:54 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:53 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:52 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:51 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 16:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:48 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:46 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:45 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:44 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:43 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:42 WIB
Kuliner
28 Mei 2026, 11:34 WIB