Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
DI Yogyakarta
»
Candi


Candi Sambisari, Permata Tersembunyi yang Terkubur Letusan Merapi

Foto: Menurut dugaan, dahulu permukaan tanah daerah di sekeliling candi tidak lebih tinggi dari lahan datar tempat Candi Sambisari berada, namun tanah pasir dan bebatuan yang terbawa oleh letusan G. Merapi pada tahun 1006 telah menimbun daerah itu.
Warta Konsumen Indonesia

Sleman, Indonesianer.com — Candi Sambisari terletak di Dusun Sambisari, Desa Purwomartani, Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Dari pusat kota Yogyakarta, jaraknya 15 kilometer ke arah timur laut. Candi Sambisari yang merupakan candi Hindu beraliran Syiwa ini diperkirakan dibangun pada awal abad ke-9 oleh Rakai Garung, seorang Raja Mataram Hindu dari Wangsa Syailendra.

Di tengah permukiman dan lahan pertanian di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berdiri sebuah candi yang memiliki kisah penemuan sangat berbeda dibandingkan banyak situs kuno lainnya di Indonesia. Candi Sambisari bukanlah peninggalan yang terus dikenal masyarakat selama berabad-abad, melainkan sebuah bangunan yang sempat hilang dari ingatan sejarah karena terkubur jauh di bawah permukaan tanah. Baru pada abad ke-20, keberadaannya kembali terungkap dan membuka satu bab penting dalam pemahaman mengenai peradaban Jawa Kuno.

Bagi wisatawan yang pertama kali mengunjungi Sambisari, hal yang paling mencolok adalah posisinya yang berada lebih rendah daripada lingkungan di sekitarnya. Untuk mencapai kompleks candi, pengunjung harus menuruni sejumlah anak tangga menuju area yang berada sekitar enam hingga tujuh meter di bawah permukaan tanah saat ini. Pemandangan tersebut segera menimbulkan pertanyaan: mengapa sebuah candi dibangun di tempat yang begitu rendah?

Jawaban atas pertanyaan itu justru menjadi bagian paling menarik dari sejarah Sambisari. Para ahli meyakini bahwa bangunan ini pada awalnya berdiri di atas permukaan tanah seperti candi-candi lain pada zamannya. Namun berbagai peristiwa alam, terutama aktivitas vulkanik Gunung Merapi, menyebabkan kawasan tersebut tertimbun material dalam jumlah besar sehingga perlahan mengubur kompleks candi selama berabad-abad.

Kini, Candi Sambisari menjadi salah satu situs arkeologi penting di Yogyakarta. Selain menawarkan keindahan arsitektur Hindu dari masa Mataram Kuno, candi ini juga memberikan gambaran mengenai bagaimana aktivitas alam dapat memengaruhi perjalanan sejarah sebuah peradaban.

Penemuan Tak Terduga dari Dalam Tanah

Kisah modern Candi Sambisari dimulai pada tahun 1966. Saat itu, seorang petani yang sedang mengolah sawah di Dusun Sambisari menemukan batu berukir yang tidak biasa. Temuan tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak berwenang dan menarik perhatian para arkeolog.

Penelitian awal menunjukkan bahwa batu yang ditemukan merupakan bagian dari bangunan kuno. Penggalian pun dilakukan secara bertahap, dan hasilnya sangat mengejutkan. Di bawah lapisan tanah yang tebal ditemukan sebuah kompleks candi Hindu yang relatif utuh. Penemuan ini segera menjadi salah satu temuan arkeologi terpenting di Indonesia pada abad ke-20.

Proses ekskavasi berlangsung selama bertahun-tahun karena seluruh bagian kompleks berada jauh di bawah permukaan tanah. Para arkeolog harus mengangkat lapisan demi lapisan material yang menutupi bangunan. Seiring berjalannya waktu, bentuk lengkap kompleks candi mulai terlihat, termasuk candi utama, tiga candi perwara, pagar batu, serta berbagai struktur pendukung lainnya.

Berdasarkan kajian arsitektur dan temuan epigrafi, para ahli memperkirakan bahwa Candi Sambisari dibangun sekitar abad ke-9 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Kuno. Sebuah lempeng emas yang ditemukan di sekitar situs mengandung tulisan yang membantu memperkirakan periode pembangunannya, meskipun tidak secara langsung menyebut nama candi tersebut.

Sebagian besar peneliti mengaitkan Sambisari dengan tradisi Hindu Siwa yang berkembang di Jawa Tengah pada masa itu. Hal ini terlihat dari berbagai unsur keagamaan yang ditemukan di dalam kompleks, termasuk keberadaan lingga dan yoni yang menjadi simbol penting dalam pemujaan Siwa.

Penemuan Sambisari juga memberikan bukti penting mengenai dampak aktivitas vulkanik Gunung Merapi terhadap kehidupan masyarakat masa lampau. Material vulkanik yang menimbun kawasan ini kemungkinan berasal dari letusan besar yang terjadi setelah masa penggunaan candi. Endapan tersebut secara perlahan menutupi bangunan hingga akhirnya hilang dari permukaan dan terlupakan selama berabad-abad.

Karena itulah, Sambisari sering disebut sebagai permata tersembunyi yang terkubur oleh alam. Berbeda dengan banyak candi lain yang mengalami kerusakan akibat penjarahan atau pembongkaran, Sambisari justru terlindungi oleh lapisan tanah yang menutupinya selama ratusan tahun.

Keindahan Arsitektur Hindu yang Terjaga oleh Waktu

Meskipun tidak sebesar Prambanan, Candi Sambisari memiliki nilai arsitektur yang sangat tinggi. Kompleks ini memperlihatkan tata ruang khas candi Hindu Jawa Tengah yang berkembang pada abad ke-9.

Di bagian tengah berdiri candi utama yang menghadap ke arah barat. Bangunan ini menjadi pusat seluruh kompleks dan merupakan tempat utama pemujaan. Di depannya terdapat tiga candi perwara yang berfungsi sebagai bangunan pendamping. Susunan seperti ini banyak ditemukan pada kompleks candi Hindu dari masa Mataram Kuno.

Di dalam ruang utama candi terdapat lingga dan yoni yang masih berada di tempatnya. Lingga melambangkan Dewa Siwa, sedangkan yoni melambangkan aspek feminin dan kesuburan. Keberadaan keduanya menunjukkan bahwa candi ini memiliki fungsi religius yang erat kaitannya dengan pemujaan Siwa.

Selain lingga dan yoni, relung-relung pada tubuh candi juga menampilkan arca-arca yang berkaitan dengan tradisi Hindu. Arca-arca tersebut menggambarkan tokoh-tokoh yang umum ditemukan pada candi-candi Siwais di Jawa Tengah. Keberadaan elemen-elemen tersebut membantu para peneliti memahami fungsi keagamaan Sambisari pada masa lalu.

Salah satu hal yang menarik dari Sambisari adalah tingkat pelestariannya yang cukup baik. Karena tertimbun tanah selama berabad-abad, banyak bagian bangunan terlindungi dari pengaruh cuaca dan aktivitas manusia. Akibatnya, sejumlah detail arsitektur masih dapat diamati dengan jelas hingga sekarang.

Lingkungan sekitar candi juga memberikan suasana yang berbeda dibandingkan situs-situs besar lainnya. Karena berada di bawah permukaan tanah, pengunjung akan merasakan kesan seolah memasuki ruang sejarah yang tersembunyi. Dinding-dinding tanah yang mengelilingi kompleks semakin memperkuat pengalaman tersebut.

Selain nilai sejarah dan arsitektur, Sambisari juga menjadi bukti hubungan erat antara manusia dan alam di Pulau Jawa. Kehidupan masyarakat masa lalu sangat dipengaruhi oleh keberadaan gunung berapi yang memberikan kesuburan sekaligus ancaman. Letusan Merapi yang kemungkinan menyebabkan tertimbunnya Sambisari menunjukkan bagaimana kekuatan alam dapat mengubah lanskap dan jalannya sejarah dalam waktu singkat.

Setelah ditemukan kembali, berbagai upaya konservasi dilakukan untuk menjaga kondisi situs. Pemugaran dan penelitian arkeologi membantu mengungkap bentuk asli kompleks sekaligus memastikan bahwa bangunan dapat dinikmati oleh generasi mendatang. Saat ini, Sambisari menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang cukup populer di Yogyakarta, terutama bagi pengunjung yang ingin melihat sisi lain dari peradaban Mataram Kuno.

Keberadaan Candi Sambisari mengingatkan bahwa masih banyak bagian sejarah yang mungkin tersembunyi di bawah tanah Nusantara. Penemuannya menunjukkan bahwa warisan masa lalu tidak selalu berada di tempat yang mudah terlihat. Kadang-kadang, jejak peradaban justru menunggu untuk ditemukan kembali setelah berabad-abad terlupakan.

Sebagai salah satu peninggalan penting Mataram Kuno, Candi Sambisari bukan hanya contoh indah arsitektur Hindu Jawa Tengah, tetapi juga simbol ketahanan sejarah terhadap perubahan alam. Terkubur oleh letusan gunung berapi, terlupakan selama ratusan tahun, lalu ditemukan kembali oleh generasi modern, Sambisari membuktikan bahwa warisan budaya dapat bertahan melampaui waktu dan terus menceritakan kisahnya kepada dunia.
.

 

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua