Pada masa lampau, pembagian bagian tubuh sapi mencerminkan struktur sosial masyarakat. Daging berkualitas baik sering disajikan untuk kalangan bangsawan atau keluarga kerajaan, sedangkan bagian lain seperti jeroan dimanfaatkan oleh masyarakat umum. Namun masyarakat lokal menunjukkan kreativitas luar biasa dengan mengolah seluruh bagian sapi menjadi makanan yang lezat dan bernilai tinggi. Dari kemampuan inilah lahir tradisi memasak coto.
Penggunaan jeroan bukan semata karena alasan ekonomi, tetapi juga menunjukkan prinsip menghargai bahan pangan secara menyeluruh. Dalam banyak budaya Nusantara, tidak ada bagian hewan yang dibiarkan terbuang. Semua diolah dengan teknik tertentu agar layak dan nikmat dikonsumsi. Coto Makassar menjadi representasi nyata dari filosofi tersebut.
Perkembangan Makassar sebagai kota pelabuhan memberi pengaruh besar terhadap komposisi bumbu coto. Jalur perdagangan yang menghubungkan Sulawesi dengan wilayah Nusantara dan mancanegara memungkinkan masyarakat mengenal serta memanfaatkan berbagai rempah. Ketumbar, jintan, bawang putih, lengkuas, serai, kemiri, serta sejumlah bumbu lain dipadukan dalam takaran khas yang menjadi identitas Coto Makassar.
Salah satu keunikan utama coto adalah penggunaan kacang tanah yang disangrai dan dihaluskan sebagai bagian dari kuah. Kehadiran kacang menciptakan tekstur kuah yang lebih pekat dan rasa gurih yang mendalam. Teknik ini membedakan Coto Makassar dari kebanyakan soto Nusantara yang umumnya mengandalkan kaldu bening atau santan.
Proses memasak coto tradisional membutuhkan waktu dan kesabaran. Daging serta jeroan direbus secara terpisah hingga empuk, kemudian dipotong sesuai ukuran yang diinginkan. Sementara itu, bumbu dihaluskan dan ditumis hingga aromanya keluar sempurna sebelum dicampurkan ke dalam kaldu. Tahap memasak berlangsung cukup lama agar seluruh rasa menyatu dan menghasilkan kuah yang kaya namun tetap seimbang.
Di banyak rumah tangga Sulawesi Selatan, resep coto diwariskan secara turun-temurun. Setiap keluarga atau penjual sering memiliki variasi kecil dalam penggunaan rempah maupun proporsi bahan. Ada coto dengan rasa lebih ringan, ada pula yang sangat pekat dan kaya rempah. Perbedaan tersebut menciptakan keragaman rasa tanpa menghilangkan identitas utamanya.
Dari Rafflesia hingga Harimau, Pesona Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang Memikat
22 Apr 2026, 17:45 WIB
Taman Nasional Kerinci Seblat, Bentang Hutan Terluas yang Menyimpan Kehidupan Liar
22 Apr 2026, 16:35 WIB
Taman Nasional Gunung Leuser, Benteng Terakhir Kehidupan Liar di Jantung Sumatra
22 Apr 2026, 15:57 WIB
Edukasi
18 Jan 2026, 0:44 WIB
Ekonomi
17 Jan 2026, 23:33 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:48 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:35 WIB
Edukasi
14 Des 2025, 0:04 WIB
Edukasi
13 Des 2025, 23:42 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:36 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:35 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:34 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:33 WIB
Ekonomi
11 Okt 2025, 16:32 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:58 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 8:41 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:39 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:35 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:30 WIB
Ekonomi
10 Okt 2025, 2:18 WIB
Peristiwa
06 Agu 2025, 0:19 WIB
Inspirasi
01 Agu 2025, 19:21 WIB
Ekonomi
30 Jul 2025, 19:47 WIB