Warta Konsumen Indonesia
Warta Konsumen Indonesia
Home
»
Maluku
»
Benteng Kolonial


Benteng Duurstede Saparua, Saksi Perlawanan Pattimura terhadap VOC

Foto: Benteng Duurstede merupakan bangunan pertahanan kolonial yang berdiri di pesisir Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku
Warta Konsumen Indonesia

Maluku Tengah, Indonesianer.com — Benteng Duurstede di Pulau Saparua, Maluku Tengah, menjadi salah satu peninggalan kolonial paling bersejarah di Indonesia timur. Benteng peninggalan VOC ini dikenal sebagai saksi perjuangan Kapitan Pattimura melawan Belanda pada tahun 1817 dan menjadi simbol perlawanan rakyat Maluku terhadap kolonialisme.

Benteng Duurstede merupakan bangunan pertahanan kolonial yang berdiri di pesisir Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Lokasinya menghadap langsung ke Laut Banda dan sejak dahulu memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan rempah-rempah di kawasan timur Nusantara.

Bagi masyarakat Maluku, Benteng Duurstede bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial, tetapi juga bagian penting dari memori perjuangan rakyat melawan penjajahan. Benteng ini sangat lekat dengan sejarah Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy, tokoh perlawanan legendaris dari Maluku.

Sejarah Pendirian Benteng Duurstede

Benteng Duurstede pertama kali dibangun oleh Portugis pada abad ke-17 sebagai pusat pertahanan dan pengawasan perdagangan rempah-rempah di wilayah Saparua. Pada masa itu, Maluku menjadi wilayah yang sangat diperebutkan bangsa-bangsa Eropa karena kekayaan cengkeh dan pala.

Seiring perubahan kekuasaan kolonial, benteng tersebut kemudian dikuasai Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Belanda lalu memperkuat dan merenovasi benteng menjadi pusat pertahanan kolonial di Pulau Saparua.

Nama “Duurstede” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “kota yang bertahan” atau “tempat pertahanan kuat.” Nama tersebut mencerminkan fungsi utama benteng sebagai basis militer untuk menjaga dominasi perdagangan rempah-rempah di Maluku.

VOC menjadikan benteng ini sebagai pusat administrasi dan pengawasan terhadap aktivitas masyarakat lokal. Dari benteng tersebut, Belanda mengontrol distribusi rempah-rempah sekaligus mengawasi potensi perlawanan rakyat.

Letak Benteng Duurstede yang berada di tepi laut membuatnya mudah digunakan untuk mengawasi kapal-kapal yang melintas di perairan Maluku. Benteng ini juga dilengkapi meriam dan pasukan kolonial untuk mempertahankan wilayah dari ancaman luar.

Benteng Duurstede dan Perlawanan Pattimura

Benteng Duurstede mencapai titik penting dalam sejarah Indonesia ketika menjadi lokasi pertempuran rakyat Maluku melawan Belanda pada tahun 1817.

Perlawanan tersebut dipimpin oleh Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy, seorang tokoh asal Saparua yang menentang kebijakan kolonial Belanda setelah kembalinya kekuasaan Belanda dari tangan Inggris.

Masyarakat Maluku saat itu merasa tertindas oleh berbagai kebijakan kolonial, termasuk monopoli perdagangan dan kerja paksa. Ketidakpuasan tersebut memicu gerakan perlawanan besar yang dipimpin Pattimura bersama para pejuang lokal.

Pada 16 Mei 1817, pasukan Pattimura berhasil menyerbu dan merebut Benteng Duurstede dari tangan Belanda. Dalam peristiwa tersebut, Residen Belanda Johannes Rudolph van den Berg beserta sebagian pasukan kolonial tewas.

Keberhasilan merebut Benteng Duurstede menjadi simbol kemenangan rakyat Maluku melawan kolonialisme. Peristiwa itu juga memperlihatkan bahwa perlawanan rakyat di wilayah timur Nusantara memiliki kekuatan besar dalam menghadapi penjajah.

Namun, Belanda kemudian mengirim pasukan tambahan dalam jumlah besar untuk merebut kembali benteng tersebut. Setelah pertempuran panjang, Pattimura akhirnya ditangkap dan dihukum gantung di Ambon pada Desember 1817.

Meski perlawanan itu berhasil dipadamkan, nama Pattimura tetap dikenang sebagai pahlawan nasional Indonesia. Benteng Duurstede pun menjadi simbol perjuangan rakyat Maluku melawan penjajahan Belanda.

Bentuk dan Arsitektur Benteng

Benteng Duurstede memiliki bentuk arsitektur khas benteng kolonial Eropa dengan struktur kokoh dan sederhana. Bangunan benteng dibuat menggunakan batu karang dan material lokal yang kuat menghadapi iklim pesisir.

Benteng ini memiliki dinding tebal dengan halaman luas di bagian tengah. Pada beberapa sisi terdapat bastion pertahanan dan tempat meriam yang menghadap ke laut.

Di dalam kawasan benteng dahulu terdapat ruang tahanan, gudang logistik, barak pasukan, dan kantor administrasi kolonial. Sebagian struktur tersebut masih dapat dilihat hingga sekarang.

Benteng Duurstede telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk menjaga kondisi bangunan tetap terawat. Meski demikian, karakter asli benteng sebagai bangunan kolonial tetap dipertahankan.

Salah satu daya tarik benteng ini adalah pemandangan laut di sekitarnya. Lokasinya yang berada di tepi pantai membuat suasana benteng terlihat eksotis, terutama saat matahari terbenam.

Lokasi dan Rute Menuju Benteng Duurstede

Benteng Duurstede berada di Kota Saparua, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Untuk mencapai lokasi, wisatawan biasanya memulai perjalanan dari Kota Ambon.

Dari Ambon, perjalanan menuju Pulau Saparua dapat ditempuh menggunakan kapal cepat maupun kapal penyeberangan dari Pelabuhan Tulehu. Waktu perjalanan laut berkisar satu hingga dua jam tergantung jenis transportasi yang digunakan.

Setelah tiba di Pulau Saparua, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan darat menuju Benteng Duurstede yang berada tidak jauh dari pusat kota kecamatan.

Akses menuju benteng relatif mudah karena sudah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah utama di Maluku. Di sekitar kawasan benteng juga terdapat fasilitas umum seperti penginapan, warung makan, dan area wisata pantai.

Pulau Saparua sendiri dikenal memiliki keindahan alam yang menarik, mulai dari pantai berpasir putih hingga desa-desa tua dengan nilai budaya yang kuat.

Historiografi Benteng Duurstede

Dalam kajian historiografi Indonesia, Benteng Duurstede memiliki posisi penting sebagai simbol perlawanan antikolonial di wilayah timur Nusantara.

Jika banyak sejarah perjuangan nasional berpusat di Jawa atau Sumatera, maka peristiwa Pattimura di Saparua menunjukkan bahwa semangat perlawanan terhadap penjajah juga tumbuh kuat di Maluku.

Sejarawan melihat Benteng Duurstede bukan hanya sebagai bangunan kolonial, tetapi juga ruang historis tempat terjadinya benturan antara kekuasaan kolonial dan perjuangan rakyat lokal.

Perlawanan Pattimura sering dipandang sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi ekonomi dan penindasan kolonial. Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana monopoli perdagangan rempah-rempah memicu ketegangan sosial di Maluku.

Historiografi Benteng Duurstede juga menempatkan Maluku sebagai wilayah penting dalam sejarah global perdagangan rempah-rempah. Sejak abad ke-16, kawasan ini menjadi pusat perhatian bangsa Eropa karena menghasilkan komoditas bernilai tinggi.

Selain itu, benteng ini menunjukkan bagaimana VOC dan pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan pertahanan untuk mempertahankan dominasi ekonomi di Nusantara.

Kini, Benteng Duurstede tidak hanya dikenang sebagai situs kolonial, tetapi juga sebagai monumen perjuangan rakyat Maluku yang mempertahankan harga diri dan kebebasan mereka.

Saat ini Benteng Duurstede menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling terkenal di Maluku Tengah. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung lokasi perjuangan Pattimura sekaligus menikmati suasana Pulau Saparua.

Pemerintah daerah terus melakukan pelestarian terhadap bangunan benteng agar tetap menjadi warisan sejarah bagi generasi mendatang.

Di kawasan benteng juga sering digelar kegiatan budaya dan peringatan perjuangan Pattimura. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah masyarakat Maluku.

Benteng Duurstede bukan sekadar bangunan tua peninggalan VOC, tetapi simbol keberanian rakyat Maluku dalam melawan penjajahan. Dari benteng di tepi Laut Banda itu, sejarah perjuangan Pattimura terus hidup dan dikenang sebagai bagian penting perjalanan bangsa Indonesia. (*)

Halaman :

Berikan Penilaian untuk Artikel Ini

Sorotan


Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Ngumbai Lawok, Tradisi Pesisir Lampung yang Menyatukan Laut, Doa, dan Kebersamaan

Tradisi 13 Jul 2026, 11:59 WIB

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Jejak Peradaban Tolaki, Warisan Budaya Sulawesi Tenggara yang Tetap Hidup di Tengah Perubahan

Tradisi 12 Jul 2026, 17:35 WIB

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Jejak Kearifan Tolaki dalam Laikas, Rumah Adat Tradisional Sulawesi Tenggara

Rumah Adat 12 Jul 2026, 17:18 WIB

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Menyusuri Adat dan Budaya Lampung, Warisan Leluhur di Gerbang Pulau Sumatra

Tradisi 12 Jul 2026, 16:53 WIB

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Warna-Warni Adat dan Budaya Sulawesi Utara yang Menjaga Harmoni di Ujung Utara Nusantara

Tradisi 06 Jul 2026, 12:16 WIB

Pilihan Redaksi

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Mie Bangka, Semangkuk Warisan Kuliner yang Selalu Dirindukan

Kuliner 06 Jul 2026, 10:23 WIB

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Lempah Kuning, Semangkuk Kehangatan Khas Bangka Belitung yang Selalu Menggugah Selera

Kuliner 05 Jul 2026, 16:51 WIB

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Mentilin Sang Primata Nokturnal yang Menjaga Hutan Kepulauan Bangka Belitung

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 16:50 WIB

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Warisan Adat dan Budaya Melayu Riau yang Tetap Lestari dari Masa ke Masa

Tradisi 05 Jul 2026, 12:53 WIB

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Menyelami Adat dan Budaya Maluku, Warisan Hidup dari Timur Nusantara

Tradisi 05 Jul 2026, 12:52 WIB

Baca Juga

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Menyusuri Hutan Tropis Bersama Jelarang Jawa, Tupai Raksasa yang Kian Langka

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:42 WIB

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Kasuari Kerdil Papua, Penjaga Sunyi Hutan Tropis yang Jarang Terlihat

Ragam Fauna 05 Jul 2026, 12:32 WIB

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Mengungkap Amorphophallus Titanum, Bunga Bangkai Raksasa dari Hutan Sumatra yang Kian Terancam

Aneka Flora 29 Jun 2026, 15:38 WIB

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Menelusuri Jejak Benteng Fort Willem I Ambarawa, Saksi Bisu Pergantian Zaman

Benteng Kolonial 29 Jun 2026, 12:17 WIB

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Blue Lagoon Tirta Budi, Oase Mata Air Jernih yang Selalu Menggoda untuk Dikunjungi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:46 WIB

Berita Lainnya

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Ekowisata Pancoh, Menikmati Harmoni Alam, Pertanian dan Kehidupan Desa

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:45 WIB

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Kampoeng Sedjarah Kelor, Menyusuri Jejak Perjuangan di Lereng Merapi

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:43 WIB

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata Gubugklakah, Gerbang Hijau Menuju Pesona Bromo Tengger Semeru

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:41 WIB

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata Cibuntu, Perpaduan Alam Budaya dan Sejarah di Lereng Gunung Ciremai

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:39 WIB

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata Pemuteran Buleleng Bali, Perpaduan Keindahan Laut, Konservasi dan Budaya

Desa Wisata 26 Jun 2026, 16:37 WIB

Taman Nasional
Lihat Semua
Benteng Kolonial
Lihat Semua