Benteng Duurstede merupakan bangunan pertahanan kolonial yang berdiri di pesisir Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Lokasinya menghadap langsung ke Laut Banda dan sejak dahulu memiliki posisi strategis dalam jalur perdagangan rempah-rempah di kawasan timur Nusantara.
Bagi masyarakat Maluku, Benteng Duurstede bukan sekadar bangunan tua peninggalan kolonial, tetapi juga bagian penting dari memori perjuangan rakyat melawan penjajahan. Benteng ini sangat lekat dengan sejarah Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy, tokoh perlawanan legendaris dari Maluku.
Sejarah Pendirian Benteng Duurstede
Benteng Duurstede pertama kali dibangun oleh Portugis pada abad ke-17 sebagai pusat pertahanan dan pengawasan perdagangan rempah-rempah di wilayah Saparua. Pada masa itu, Maluku menjadi wilayah yang sangat diperebutkan bangsa-bangsa Eropa karena kekayaan cengkeh dan pala.
Seiring perubahan kekuasaan kolonial, benteng tersebut kemudian dikuasai Belanda melalui Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC. Belanda lalu memperkuat dan merenovasi benteng menjadi pusat pertahanan kolonial di Pulau Saparua.
Nama “Duurstede” berasal dari bahasa Belanda yang berarti “kota yang bertahan” atau “tempat pertahanan kuat.” Nama tersebut mencerminkan fungsi utama benteng sebagai basis militer untuk menjaga dominasi perdagangan rempah-rempah di Maluku.
VOC menjadikan benteng ini sebagai pusat administrasi dan pengawasan terhadap aktivitas masyarakat lokal. Dari benteng tersebut, Belanda mengontrol distribusi rempah-rempah sekaligus mengawasi potensi perlawanan rakyat.
Letak Benteng Duurstede yang berada di tepi laut membuatnya mudah digunakan untuk mengawasi kapal-kapal yang melintas di perairan Maluku. Benteng ini juga dilengkapi meriam dan pasukan kolonial untuk mempertahankan wilayah dari ancaman luar.
Benteng Duurstede dan Perlawanan Pattimura
Benteng Duurstede mencapai titik penting dalam sejarah Indonesia ketika menjadi lokasi pertempuran rakyat Maluku melawan Belanda pada tahun 1817.
Perlawanan tersebut dipimpin oleh Kapitan Pattimura atau Thomas Matulessy, seorang tokoh asal Saparua yang menentang kebijakan kolonial Belanda setelah kembalinya kekuasaan Belanda dari tangan Inggris.
Masyarakat Maluku saat itu merasa tertindas oleh berbagai kebijakan kolonial, termasuk monopoli perdagangan dan kerja paksa. Ketidakpuasan tersebut memicu gerakan perlawanan besar yang dipimpin Pattimura bersama para pejuang lokal.
Pada 16 Mei 1817, pasukan Pattimura berhasil menyerbu dan merebut Benteng Duurstede dari tangan Belanda. Dalam peristiwa tersebut, Residen Belanda Johannes Rudolph van den Berg beserta sebagian pasukan kolonial tewas.
Keberhasilan merebut Benteng Duurstede menjadi simbol kemenangan rakyat Maluku melawan kolonialisme. Peristiwa itu juga memperlihatkan bahwa perlawanan rakyat di wilayah timur Nusantara memiliki kekuatan besar dalam menghadapi penjajah.
Namun, Belanda kemudian mengirim pasukan tambahan dalam jumlah besar untuk merebut kembali benteng tersebut. Setelah pertempuran panjang, Pattimura akhirnya ditangkap dan dihukum gantung di Ambon pada Desember 1817.
Meski perlawanan itu berhasil dipadamkan, nama Pattimura tetap dikenang sebagai pahlawan nasional Indonesia. Benteng Duurstede pun menjadi simbol perjuangan rakyat Maluku melawan penjajahan Belanda.
Bentuk dan Arsitektur Benteng
Benteng Duurstede memiliki bentuk arsitektur khas benteng kolonial Eropa dengan struktur kokoh dan sederhana. Bangunan benteng dibuat menggunakan batu karang dan material lokal yang kuat menghadapi iklim pesisir.
Benteng ini memiliki dinding tebal dengan halaman luas di bagian tengah. Pada beberapa sisi terdapat bastion pertahanan dan tempat meriam yang menghadap ke laut.
Di dalam kawasan benteng dahulu terdapat ruang tahanan, gudang logistik, barak pasukan, dan kantor administrasi kolonial. Sebagian struktur tersebut masih dapat dilihat hingga sekarang.
Benteng Duurstede telah mengalami beberapa kali pemugaran untuk menjaga kondisi bangunan tetap terawat. Meski demikian, karakter asli benteng sebagai bangunan kolonial tetap dipertahankan.
Salah satu daya tarik benteng ini adalah pemandangan laut di sekitarnya. Lokasinya yang berada di tepi pantai membuat suasana benteng terlihat eksotis, terutama saat matahari terbenam.
Lokasi dan Rute Menuju Benteng Duurstede
Benteng Duurstede berada di Kota Saparua, Pulau Saparua, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Untuk mencapai lokasi, wisatawan biasanya memulai perjalanan dari Kota Ambon.
Dari Ambon, perjalanan menuju Pulau Saparua dapat ditempuh menggunakan kapal cepat maupun kapal penyeberangan dari Pelabuhan Tulehu. Waktu perjalanan laut berkisar satu hingga dua jam tergantung jenis transportasi yang digunakan.
Setelah tiba di Pulau Saparua, wisatawan dapat melanjutkan perjalanan darat menuju Benteng Duurstede yang berada tidak jauh dari pusat kota kecamatan.
Akses menuju benteng relatif mudah karena sudah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah utama di Maluku. Di sekitar kawasan benteng juga terdapat fasilitas umum seperti penginapan, warung makan, dan area wisata pantai.
Pulau Saparua sendiri dikenal memiliki keindahan alam yang menarik, mulai dari pantai berpasir putih hingga desa-desa tua dengan nilai budaya yang kuat.
Historiografi Benteng Duurstede
Dalam kajian historiografi Indonesia, Benteng Duurstede memiliki posisi penting sebagai simbol perlawanan antikolonial di wilayah timur Nusantara.
Jika banyak sejarah perjuangan nasional berpusat di Jawa atau Sumatera, maka peristiwa Pattimura di Saparua menunjukkan bahwa semangat perlawanan terhadap penjajah juga tumbuh kuat di Maluku.
Sejarawan melihat Benteng Duurstede bukan hanya sebagai bangunan kolonial, tetapi juga ruang historis tempat terjadinya benturan antara kekuasaan kolonial dan perjuangan rakyat lokal.
Perlawanan Pattimura sering dipandang sebagai bentuk protes terhadap eksploitasi ekonomi dan penindasan kolonial. Konflik tersebut memperlihatkan bagaimana monopoli perdagangan rempah-rempah memicu ketegangan sosial di Maluku.
Historiografi Benteng Duurstede juga menempatkan Maluku sebagai wilayah penting dalam sejarah global perdagangan rempah-rempah. Sejak abad ke-16, kawasan ini menjadi pusat perhatian bangsa Eropa karena menghasilkan komoditas bernilai tinggi.
Selain itu, benteng ini menunjukkan bagaimana VOC dan pemerintah kolonial Belanda membangun jaringan pertahanan untuk mempertahankan dominasi ekonomi di Nusantara.
Kini, Benteng Duurstede tidak hanya dikenang sebagai situs kolonial, tetapi juga sebagai monumen perjuangan rakyat Maluku yang mempertahankan harga diri dan kebebasan mereka.
Saat ini Benteng Duurstede menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling terkenal di Maluku Tengah. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung lokasi perjuangan Pattimura sekaligus menikmati suasana Pulau Saparua.
Pemerintah daerah terus melakukan pelestarian terhadap bangunan benteng agar tetap menjadi warisan sejarah bagi generasi mendatang.
Di kawasan benteng juga sering digelar kegiatan budaya dan peringatan perjuangan Pattimura. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga ingatan sejarah masyarakat Maluku.
Benteng Duurstede bukan sekadar bangunan tua peninggalan VOC, tetapi simbol keberanian rakyat Maluku dalam melawan penjajahan. Dari benteng di tepi Laut Banda itu, sejarah perjuangan Pattimura terus hidup dan dikenang sebagai bagian penting perjalanan bangsa Indonesia. (*)
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Flora
26 Jun 2026, 8:25 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB