Di tepi barat Kota Makassar, menghadap langsung ke hamparan Selat Makassar, berdiri sebuah bangunan bersejarah yang telah menjadi saksi perjalanan panjang Sulawesi Selatan selama berabad-abad. Benteng Rotterdam bukan sekadar benteng tua peninggalan kolonial, melainkan simbol perjumpaan budaya, perdagangan, peperangan, hingga lahirnya berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Meski usianya telah melampaui tiga abad, benteng ini tetap menjadi salah satu destinasi wisata sejarah paling populer di Indonesia Timur.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Makassar, Benteng Rotterdam hampir selalu masuk dalam daftar tempat yang wajib dikunjungi. Lokasinya yang strategis di pusat kota membuat benteng ini mudah dijangkau, baik oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. Suasana kawasan yang teduh dengan bangunan-bangunan kolonial yang masih terawat menghadirkan pengalaman berbeda dibandingkan objek wisata modern. Berjalan di antara dinding batu tebal dan halaman luasnya seolah membawa pengunjung kembali ke masa ketika Makassar menjadi salah satu pelabuhan terpenting di Nusantara.
Benteng ini memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada masa penjajahan Belanda. Awalnya, benteng tersebut dibangun oleh Kerajaan Gowa pada pertengahan abad ke-16 sebagai bagian dari sistem pertahanan kerajaan maritim yang saat itu sedang berkembang pesat. Raja Gowa ke-9, Karaeng Tumapa'risi' Kallonna, diyakini menjadi penggagas pembangunan benteng pertama yang kala itu masih menggunakan material tanah liat.
Seiring meningkatnya ancaman dari kerajaan lain dan bangsa asing yang mulai berdatangan ke Nusantara, benteng kemudian diperkuat menggunakan batu padas yang diambil dari kawasan Karst Maros. Penguatan ini dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alauddin, menjadikan benteng jauh lebih kokoh dalam menghadapi serangan.
Pada abad ke-17, Kerajaan Gowa berkembang menjadi kekuatan perdagangan terbesar di kawasan timur Nusantara. Pelabuhan Makassar ramai disinggahi kapal-kapal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari pedagang Melayu, Arab, India, Tiongkok, hingga bangsa-bangsa Eropa seperti Portugis, Inggris, dan Belanda. Kemajuan tersebut membuat Makassar menjadi pusat perdagangan rempah-rempah yang sangat strategis.
Kejayaan itu kemudian memicu persaingan dengan VOC yang ingin memonopoli perdagangan rempah. Konflik panjang akhirnya pecah menjadi Perang Makassar yang berlangsung pada pertengahan abad ke-17. Setelah melalui berbagai pertempuran sengit, Kerajaan Gowa akhirnya mengalami kekalahan dan dipaksa menandatangani Perjanjian Bungaya pada tahun 1667.
Geopark Matano Selangkah Lagi Menjadi Warisan Geologi Nasional Danau Purba Indonesia
26 Jun 2026, 14:12 WIB
Purbakala
26 Jun 2026, 8:10 WIB
Peristiwa
26 Jun 2026, 7:26 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:57 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:52 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:46 WIB
Rumah Adat
25 Jun 2026, 9:17 WIB
Purbakala
24 Jun 2026, 22:16 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:23 WIB
Peristiwa
24 Jun 2026, 12:00 WIB
Museum
21 Jun 2026, 17:30 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:53 WIB
Purbakala
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:52 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:50 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:49 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 7:48 WIB
Festival Budaya
21 Jun 2026, 7:46 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:39 WIB
Istana Nusantara
21 Jun 2026, 7:38 WIB
Desa Wisata
21 Jun 2026, 6:56 WIB